Opini Tribun Timur
Orang Kampus dan Sumpah Pemuda
28 Oktober yang akan kita kenang sebagai satu pencapaian terbesar yang mampu diartikulasikan dan didemonstrasikan oleh kaum muda.
Masa itu kaum muda tak disuguhi istilah kampus merdeka. Tetapi, nyata senyata-nyatanya mampu mengambil bagian dalam proses memerdekakan bangsa Indonesia.
Kita mungkin bertanya mengapa bisa demikian? Bukankah hari ini kita sudah merdeka? Hari Sumpah
Pemuda 28 Oktober tak pernah absen kita peringati, namun kenapa yang sering kali tersisa hanyalah seremoni belaka?
Kaum muda yang mempelopori Sumpah Pemuda bersumber dari lembaga pendidikan alias kampus.
Bila dibandingkan dengan hari ini maka jumlah kampus jauh lebih banyak hari ini dibandingkan dengan masa Hindia Belanda.
Penyebaran kampus pun telah jauh lebih merata, tetapi kenapa kampus belum mampu menghasilkan lulusan yang jauh lebih memadai?
Kampus masa lalu mampu menumbuhkan kesadaran akan minat baca dengan akses koleksi buku-buku perpustakaan yang memadai.
Tak heran bila anak jurusan ekonomi, teknik dan kedokteran mampu memiliki kesadaran politik sama baiknya dengan penguasaan keilmuan yang digelutinya.
Hatta, Soekarno, Moh. Yamin, Supomo dan sederet nama-nama lainnya yang memiliki peranan besar dalam sejarah kemerdekaan Indonesia terlahir dari dunia kampus.
Lantas adakah kampus hari ini sudah terjebak dalam sistem dan sirkulasi birokrasi akademik?
Kampus juga telah mengambil peran yang sangat signifikan dalam dunia politik praktis. Hal
itu, terlihat saat momen pemilu ada banyak akselerasi hingga deklarasi yang digawangi oleh pihak kampus. Seolah kampus sudah sangat berkelindan dengan dunia politik praktis.
Keterlibatan akademisi juga sangat signifikan dalam dunia politik praktis. Bahkan ada yang mampu menduduki jabatan eksekutif seperti Bupati dan Gubernur.
Bila dulu akademisi terbiasa mengejek politisi dengan kebanalan yang dilakukan. Tetapi, sekarang akademisi
sudah saling berbagi kebanalan.
Contoh nyata yang bisa terlihat akademisi sudah berbagi gelar akademik dengan para politisi lewat jalan Doktor Honoris Causa dan atau Profesor kehormatan.
Efek samping dari sikap saling berbagi antara akademisi dan politisi memberikan ruang merambat satu sama lain. Politisi dapat gelar dari kampus, sebaliknya akademisi dapat jabatan dari politisi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/ilustrasi-sumpah-pemuda-1-8112021.jpg)