Perjanjian Bongaya
Gegara Perjanjian Bongaya, 2 Kerajaan Besar di Sulawesi Ini Runtuh, Isinya Monopoli VOC di Makassar
Inilah Isi Perjanjian Bongaya yang Jadi Alat Berlakunya Monopoli VOC di Bumi Makassar, Dua Kerajaan di Sulawesi Ini Tumbang Karena Berani Menentangnya
Selain menjadi awal keruntuhan Kesultanan Gowa, Perjanjian Bongaya rupanya memakan korban selanjutnya, yaitu Kerajaan Bone.
Keruntuhan Kerajaan Bone berawal dari keinginan Raja Bone, Arung Datu (1823-1835 M) untuk merevisi perjanjian tersebut.
Meski telah membantu VOC melawan Sultan Hasanuddin, ternyata Kerajaan Bone tidak selamanya menjadi sekutu VOC.
Bone menjadi kerajaan terkuat di Sulawesi segera setelah Kesultanan Gowa jatuh.
Yaitu ketika Kerajaan Bone dipimpin oleh Arung Palakka, Sultan ke-15 yang bertahta antara 1672 - 1696 M.
Namun karena VOC yang membuat Arung Palakka berhasil berkuasa, Bone tetap di bawah bayang-bayang Belanda.
Dan kemudian mengalami kemunduran saat sultannya, Sultan Ismail Muhtajuddin sebagai raja ke-24, wafat pada 1823 M.
Setelah itu, kekuasaan dilanjutkan oleh Arung Datu (1823-1835 M).
Ketika berusaha merevisi isi Perjanjian Bongaya, Arung Datu yang pro-rakyat akhirnya memicu kemarahan Belanda.
Belanda pun meluncurkan serangan hingga berhasil menduduki Kerajaan Bone, sementara Arung Datu diasingkan.
Dalam pengasingan, Arung Datu masih berupaya menyerang, tetapi usahanya selalu dapat ditumpas pasukan Belanda. (*)
Artikel ini telah tayang di Intisari-Online.com dengan judul "Inilah Isi Perjanjian Bongaya yang Jadi Alat Berlakunya Monopoli VOC di Bumi Makassar, Dua Kerajaan di Sulawesi Ini Tumbang Karena Berani Menentangnya