Breaking News:

Kajian Timur Tengah

Komunikasi Damai Raja Abdullah dengan Presiden Bashar Al Assad

Raja Yordania Abdullah II berbicara dengan Presiden Bashar al-Assad untuk pertama kalinya sejak dimulainya perang saudara di Suriah 10 tahun lalu.

Editor: Suryana Anas
Courtesy:as kambie
Supratman Supa Athana, Dosen Departemen Asia Barat FIB Unhas 

Kajian Timur Tengah oleh Supratman Supa Athana, Dosen Departemen Asia Barat FIB Unhas

Raja Yordania Abdullah II berbicara melalui telepon dengan Presiden Bashar al-Assad untuk pertama kalinya sejak dimulainya perang saudara di Suriah 10 tahun lalu.

Tanda-tanda peningkatan hubungan baik antara Suriah dan Yordania itu di mediasi oleh Rusia.

Beberapa media melaporkan di antaranya Pars Today bahwa dalam kontak telepon dengan Assad dan Abdullah, Raja Yordania menekankan dukungan negaranya untuk kedaulatan nasional Suriah, stabilitas dan integritas teritorial.

Dia sebelumnya telah meminta Amerika Serikat untuk menyetujui ‘jalur internasional’ untuk mengakhiri krisis Suriah dengan syarat tetap di kontrol Amerika Serikat, Rusia, Israel dan Yordania.

Padahal dalam perang saudara di Suriah, Kerajaan Yordanian mendukung pasukan yang memberontak pada rezim Bashal Asad.

Namun dalam kontak telepon baru-baru ini dikabarkan pemimpin kedua negara membahas hubungan persaudaraan dan cara untuk memperluas kerja sama.

Lebih jauh dari itu, beberapa pejabat pemerintah Yordania mengatakan bahwa raja Yordania, tiga bulan lalu, menyampaikan berusaha untuk membujuk Amerika Serikat untuk bernegosiasi dengan Suriah dan Rusia.

Pernyataan itu tidak berlebihan karena Raja Abdullah adalah salah sekutu kuat Amerika di Timur Tengah.

Namun, pemerintah AS baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka tidak memiliki rencana untuk “menormalkan atau meningkatkan” hubungan diplomatik dengan pemerintah Suriah yang dipimpin oleh Bashar al-Assad, dan tidak mendorong orang lain untuk melakukannya.

Raja Yordania juga bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada bulan Agustus dan menyatakan harapan bahwa pemerintah Rusia akan “mengambil alih milisi yang ada di perbatasan Suriah-Yordania.”

Sebagai pemanasan hubungan baik dari kedua negara tersebut maka menteri pertahanan Suriah mengunjungi Yordania akhir bulan lalu.

Ada kesepakatan mereka untuk memberdayakan dan mengangkut gas alam Mesir dengan rute melalui Yordania, Suriah dan Lebanon.

Kenyataan ini tentu saja menjadi mimpi buruk bagi Presiden Joe Biden untuk semakin menguatkan pengaruhnya di Timur Tengah.

Akankah imperium Amerika segera berakhir total di masa rezim Joe Biden? (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved