Kisah Pahlawan

Kisah Arief Rate, Pejuang Sulsel yang Dieksekusi Mati oleh Kawan Sendiri

Sebagian warga Makassar mungkin hanya mengenal Arief Rate sebagai nama jalan. Sosok Arief Rate ternyata adalah pejuang asal Sulsel yang terkenal gigih

Editor: Muh. Irham
int
Para pejuang Sulawesi Selatan dengan persenjataan seadanya saat melawan Belanda 

Soeharto tak suka dengan sikap tersebut, namun enggan memperpanjang masalah.

Sejarawan Anhar Gonggong dalam Abdul Qohhar Mudzakar: Dari Patriot Hingga Pemberontak (1992) menulis bahwa banyak pejuang KGSS yang dinyatakan tidak layak masuk APRIS alias memenuhi persyaratan.

Sementara anggota KNIL, yang berjuang di sisi Belanda, bisa dengan mudahnya diterima sebagai prajurit APRIS.

Problem kian pelik pada Januari 1950. Eks KNIL di Makassar menolak mentah-mentah rencana pemerintah pusat mengirim personil APRIS ke Kota Daeng.

Mereka beralasan masih sanggup mengamankan Makassar dan Negara Indonesia Timur, nama negara bagian yang mencakup Sulawesi-Maluku-Nusa Tenggara sebagai implementasi KMB.

Namun ada pula anggapan penolakan eks KNIL didasari niat menancapkan pengaruh sebagai garda militer terdepan di Sulawesi Selatan.

Akhirnya pada tahun 1950, pertempuran antara pasukan APRIS dan eks KNIL pecah di Makassar. Pertempuran itu berlangsung dari April hingga awal Agustus 1950.

Di akhir-akhir konflik, kelompok MBR pimpinan Arief Rate akhirnya muncul setelah sekian lama bertahan di hutan.

Mereka berada di sisi APRIS. Namun, reaksi sesudahnya sangat tak terduga.

Dalam buku Suharto: A Political Biography (2001), Robert Edward Elson menyebut Arief beserta sejumlah petinggi MBR lain dieksekusi mati oleh Abdul Latief, seorang kapten dari Brigade Mataram yang turut serta dalam rombongan APRIS ke Makassar.

Misi TNI-APRIS memang tercapai. Perlawanan eks KNIL berhasil dipadamkan. Namun masih ada duri yang tersisa.

"Insiden tersebut memancing perasaan getir di benak penduduk Sulawesi Selatan terhadap orang-orang asal Jawa. Selain itu salah satu prinsip dasar Soeharto telah dilanggar (oleh eksekusi tersebut): tidak bertindak tergesa-gesa (dalam menyelesaikan masalah)," tulis Elson.(*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved