Breaking News:

OJK

OJK Bahas Peran Industri Keuangan Syariah dalam Mendukung PEN dan UMKM Sulsel

OJK menggelar Sarasehan IJK Peran Industri Keuangan Syariah dalam Mendukung PEN dan UMKM di Sulawesi Selatan di Hotel Four Points, Makassar

Penulis: Dian Amelia | Editor: Suryana Anas
OJK
Sarasehan IJK Peran Industri Keuangan Syariah dalam Mendukung PEN dan UMKM di Sulawesi Selatan, di Hotel Four Points, Sabtu (1/5/2021). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai lembaga independen yang mengemban tugas untuk mengatur dan mengawasi industri perbankan serta melindungi konsumen perbankan, berkepentingan untuk mengembangkan perbankan agar memiliki kinerja yang baik.

Pengembangan perbankan Indonesia perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan gejolak sehingga perbankan dapat tumbuh secara sehat dan berkesinambungan serta mampu memberikan manfaat yang besar bagi pembangunan ekonomi nasional dan kesejahteraan masyarakat.

Salah satunya  untuk Peran Industri Keuangan Syariah dalam Mendukung PEN dan UMKM di Sulawesi Selatan.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso mengatakan UMKM Sulsel didukung oleh sebagian besar mikro kecil menengah yang dimana sebagian produk dapat memberikan value ke masyarakat, bukan hanya ke syariahnnya saja melainkan bagi seluruh msayarakat.

"Walaupun produk yang dimiliki sangatlah banyakm tetapi jika masyarakat tidak mendapatkan produk yang sesuai harga, ataukah tidak mendapat pelayanan yang baik tentunta inilah yang menjadi pokok persoalannya," ujarnya dalam Sarasehan IJK Peran Industri Keuangan Syariah dalam Mendukung PEN dan UMKM di Sulawesi Selatan, di Hotel Four Points, Sabtu (1/5/2021).

Menurutnya tantangan yang dihadapi industri perbankan ke depan semakin meningkat, bervariasi, dan dinamis.

Tantangan tersebut terutama muncul dari adanya pandemi Covid-19 dan kebijakan pembatasan sosial berskala besar yang mengikutinya.

Selain itu, terdapat sejumlah tantangan struktural perbankan yang masih harus dihadapi terkait skala usaha dan daya saing perbankan serta perkembangan ekonomi dan keuangan digital yang pesat diiringi dengan perubahan perilaku ekonomi masyarakat. 

Mencermati tantangan tersebut, OJK memandang perlu merumuskan arah perbankan ke depan yang selaras dengan dinamika perekonomian dan perbankan nasional yang dituangkan dalam Roadmap Pengembangan Perbankan Indonesia.

"Tantangan pengembangan dan keuangan ekonomi syariah di market share itu lebih rendah dibandingkan konvensional sebanyak 9,96 persen Sedangkan untuk tingkat permodalan yang terbatas dimana 6 dari 14 bank Syariah memiliki modal inti dibawah Rp 2 triliun. Hal inilah yang membuat terbatasnya SDM  untuk mendukung pengembangan sektor Syariah yang di mana literasi keuangan syariah yang masih rendah 8,93 persen dan indeks nasional 38,08 persen," jelasnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved