Breaking News:

Refleksi Ramadan 1442

Mappabuka dalam Budaya Islam Bugis-Makassar, Rindu Masa Kecil di Labolong-Pinrang

Tradisi memberi buka puasa atau mappabuka dalam Bahasa Bugis tersebut tidak hanya di zaman Nabi dan para khalifah tapi juga marak di Bugis-Makassar

Editor: AS Kambie

Ramadan sangat potensial menjadi momentum untuk membangun dan menyatukan persaudaraan baik sesama Muslim, non Muslim maupun dengan seluruh makhluk ciptaan Tuhan, termasuk hewan dan tumbuh-tumbuhan.

Orang yang semakin suci hatinya, semakin lapang pula dadanya sehingga bisa menampung  dan menerima segala macam perbedaan.

Keutamaan mappubaka atau memberi buka puasa juga disampaikan oleh Musa Ibn Ja’far, “Memberi pabbuka pada saudara beriman  lebih mulia daripada puasa kita sendiri.”

Ja’far Shadiq juga mempertegas, ”Bila seseorang memberikan pabuka pada satu orang mukni maka dosa di tahun sebelumnya akan diampuni seluruhnya tahun. Apabila doa orang mukmim diberi pabuka maka pahalanya hanya Tuhan yang tahu dan disediakan pula olehnya tempat di surga.”

Keterangan di atas sangat cukup menjadi argumentasi sekirannya mappubaka punya perhatian khusus dalam tradisi Islam.

Hal ini pula bisa dijumpai dalam tradisi Islam Bugis-Makassar.

Di kampung saya, Labolong-Pinrang, ketika masih berumur 9-10 tahunan saya ingat saat sehari saja sudah masuknya bulan puasa maka sudah beredar kabar tentang sesiapa yang akan mappabuka.

Masyarakat dengan sendirinya tahu hari ke hari keluarga yang akan mappabuka selama bulan Ramadan.

Semua warga kampung Labolong-Pinrang datang ke tempat mappabuka tanpa ada undangan.

Mereka juga akan menunda acaranya yang lain bila bertepatan dengan acara mappabuka itu.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved