Breaking News:

Refleksi Ramadan 1442

Ketika Sekelompok Pemuda Pergoki Seorang Tua Makan Sembunyi-sembungi di Siang Hari Ramadan

Puasa adalah kepatuhan seluruh raga dan jiwa manusia. Dalam Ramadan,semua pancaindra puasa.

Editor: AS Kambie

Oleh
Supa Athana
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Unhas

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Suatu hari di bulan Ramadan, beberapa anak muda melihat seorang lelaki tua makan di tempat yang tersembunyi.

Mereka berkata kepadanya, "Wahai orang tua, apakah kamu tidak berpuasa?"

Orang tua itu berkata, "Mengapa saya tidak berpuasa, saya hanya makan dan minum air."

Anak-anak muda itu tertawa dan berkata, "Benarkah?"

Orang tua itu berkata, " Ya, saya tidak berbohong, saya tidak merendahkan siapa pun, saya tidak mengolok-olok siapa pun. Saya tidak gibah. Saya tidak menghina siapa pun, saya tidak menyakiti siapa pun, saya tidak mencuri barang siapa pun.”

Lanjut orang tua itu, "Tapi karena saya punya penyakit khusus, sayang sekali,  perut saya tidak bisa puasa."

"Ya, tetap tidak puasa," sergap salah satu pemuda.

Kemudian orang tua itu berkata kepada sekelompok anak muda di depannya itu "Apakah kamu juga berpuasa?"

"Tidak," kata salah satu pemuda, menundukkan kepalanya karena malu.

"Kami hanya tidak makan dan minum," ujarnya lirih

 Puasa adalah kepatuhan seluruh raga dan jiwa manusia.

Di bulan Ramadan sepantasnya  semua panca indera manusia;  mata, hati, lidah, perut dengan segala perilaku dan perbuatannya hanya untuk beribadah kepada Alla dan melayani segala ciptaan Allah SWT. Semua puasa.

Semua kemampuan dan kekuatan yang ada pada manusia tidak lagi untuk mengeksploitasi dan merusak semua apa yang ada di alam raya; bumi, air, bunga, tanaman hijau dan makhluk lainnya.

Itulah puasa sejati sesungguhnya yang mengikat seluruh jiwa dan raga manusia pada tali Allah SWT.(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved