Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Presiden Malioboro

KUMPULAN Puisi Umbu Landu Paranggi Sang Presiden Malioboro, Guru Bagi Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Kumpulan Puisi Umbu Landu Paranggi Sang Presiden Malioboro, Guru Bagi Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Salah satu puisinya berjudul Sajak Dalam Angin.

Editor: Sakinah Sudin
Kolase Tribun Timur/ Sakinah Sudin
Puisi Umbu Landu Paranggi berjudul Apa Ada Angin di Jakarta (http://umbulanduparanggi.blogspot.com/) dan foto sang Presiden Malioboro (Istimewa) 

sabana tandus
mainkan laguku
harum napas bunda
seorang gembala berpacu

lapar dan dahaga
kemarau yang kurindu
dibakar matahari
hela jiwaku risau
karena kumau lebih cinta
hunjam aku ke bibir cakrawala

Sumber : “Persada Studi Klub dan Sajak-sajak Presiden Malioboro” dalam Suara Pancaran Sastra : Himpunan Esai dan Kritik, Korrie Layun Rampan, Yayasan Arus Jakarta, 1984.

  • Melodia

Cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan
karena sajak pun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan
baiknya mengenal suara sendiri dalam mengarungi suara-suara luar sana
sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi, membawa langkah ke mana saja

Karena kesetiaanlah maka jinak mata dan hati pengembara
dalam kamar berkisah, taruhan jerih memberi arti kehadirannya
membukakan diri, bergumul dan menyeri hari-hari tergesa berlalu
meniup deras usia, mengitari jarak dalam gempuran waktu

Takkan jemu napas bergelut di sini, dengan sunyi dan rindu menyanyi
dalam kerja berlumur suka-duka, hikmah pengertian melipur damai
begitu berarti kertas-kertas di bawah bantal, penanggalan penuh coretan
selalu sepenanggungan, mengadu padaku dalam manja bujukan

Rasa-rasanya padalah dengan dunia sendiri manis, bahagia sederhana
di rumah kecil papa, tapi bergelora hidup kehidupan dan berjiwa
kadang seperti terpencil, tapi gairah bersahaja harapan impian
yang teguh mengolah nasib dengan urat biru di dahi dan kedua tangan

Sumber : Tonggak 3, Antologi Puisi Indonesia Modern (ed) Linus Suryadi AG, Gramedia, Jakarta, 1987 (halaman 243-244). Puisi ini diambil dari Manifes: Antologi Puisi 9 Penyair Yogya, Yogyakarta, 1968.  (Tribun-timur.com/ Sakinah Sudin )

Sumber: Tribun Timur
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved