Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Presiden Malioboro

KUMPULAN Puisi Umbu Landu Paranggi Sang Presiden Malioboro, Guru Bagi Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Kumpulan Puisi Umbu Landu Paranggi Sang Presiden Malioboro, Guru Bagi Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Salah satu puisinya berjudul Sajak Dalam Angin.

Editor: Sakinah Sudin
Kolase Tribun Timur/ Sakinah Sudin
Puisi Umbu Landu Paranggi berjudul Apa Ada Angin di Jakarta (http://umbulanduparanggi.blogspot.com/) dan foto sang Presiden Malioboro (Istimewa) 

Cerita tentang Umbu pernah ditulis Emha Ainun Nadjib di laman caknun.com miliknya.

Bagaimana Cak Nun pertama bertemu dengan Umbu dan belajar tentang apa yang disebutnya sebagai Kehidupan Puisi.

Pendidikan:

  • SMA BOPKRI Yogyakarta.
  • Sarjana Sosiatri, Fakultas Ilmu Sosial Politik, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
  • Sarjana Hukum, Universitas Janabadra, Yogyakarta.

Kumpulan Puisi Umbu Landu Paranggi

Penelusuran Tribun-timur.com, puisi Umbu Landu Paranggi atau Presiden Malioboro dapat dijumpai di web http://umbulanduparanggi.blogspot.com/:

Dalam web tersebut, puisi Umbu Landu Paranggi dibagi atas dua, periode Bali (8 puisi) dan Periode Yogyakarta (30 puisi).

Berikut beberapa puisi Umbu Landu Paranggi:

  • Ibunda Tercinta

Perempuan tua itu senantiasa bernama:
duka derita dan senyum yang abadi
tertulis dan terbaca jelas kata-kata puisi
dari ujung rambut sampai telapak kakinya

Perempuan tua itu senantiasa bernama:
korban, terima kasih, restu dan ampunan
dengan tulus setia telah melahirkan
berpuluh lakon, nasib dan sejarah manusia

Perempuan tua itu senantiasa bernama:
cinta kasih sayang, tiga patah kata purba
di atas pundaknya setiap anak tegak berdiri
menjangkau bintang-bintang dengan hatinya dan janjinya

(1965)
Sumber : Tonggak 3 : Antologi Puisi Indonesia Modern (ed) Linus Suryadi AG, Gramedia, Jakarta, 1987 (halaman 244). Puisi ini diambil dari Manifes, Antologi Puisi 9 Penyair Yogya, Yogyakarta, 1968.

  • Percakapan Selat

Pantai berkabut di sini, makin berkisah dalam tatapan
sepi yang lalu dingin gumam terbantun di buritan
juluran lidah ombak di bawah kerjap mata, menggoda
di mana-mana, di mana-mana menghadang cakrawala

Laut bersuara di sisi, makin berbenturan dalam kenangan
rusuh yang sampai, gemas resah terhempas di haluan
pusaran angin di atas geladak, bersabung menderu
di mana-mana, di mana-mana, mengepung dendam rindu

Menggaris batas jaga dan mimpikah cakrawala itu
mengarungi perjalanan rahasia cintakah penumpang itu
namun membujuk jua langkah, pantai, mega, lalu burung-burung

Mungkin sedia yang masuk dalam sarang dendam rindu
saat langit luputkan cuaca dan laut siap pasang
saat pulau-pulau lengkap berbisik, saat haru mutlak biru

(1966)
Keterangan : versi 1, Sumber : Tonggak 3, Antologi Puisi Indonesia Modern (ed) Linus Suryadi AG, Gramedia, Jakarta, 1987 (halaman 240). Puisi ini diambil dari Pelopor Yogya, 18 Januari 1970.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Timur
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved