Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Presiden Malioboro

KUMPULAN Puisi Umbu Landu Paranggi Sang Presiden Malioboro, Guru Bagi Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Kumpulan Puisi Umbu Landu Paranggi Sang Presiden Malioboro, Guru Bagi Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Salah satu puisinya berjudul Sajak Dalam Angin.

Editor: Sakinah Sudin
Kolase Tribun Timur/ Sakinah Sudin
Puisi Umbu Landu Paranggi berjudul Apa Ada Angin di Jakarta (http://umbulanduparanggi.blogspot.com/) dan foto sang Presiden Malioboro (Istimewa) 

TRIBUN-TIMUR.COM - Berikut kumpulan Puisi Umbu Landu Paranggi Sang Presiden Malioboro, Guru Bagi Emha Ainun Nadjib (Cak Nun).

Innalillahi wainnailaihi rojiun. Dunia seni berduka.

Salah satu tokoh sastra Indonesia, Umbu Landu Paranggi meninggal dunia di RS Bali Mandara, Selasa (6/4/2021) pukul 03.55 WITA.

Kabar tersebut diposting akun resmi Kenduri Cinta.

"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun... Duka kami, mengantarmu ke huma yang sejati Bapak Umbu Landu Paranggi 

Pada hari Selasa tanggal 6 April 2021 pukul 03.55 WITA di RS Bali Mandara.

#MaiyahBerduka," tulis akun tersebut, Selasa (6/4/2021) pukul 5.06 dini hari.

Presiden dan #MaiyahBerduka pun Trending di Twitter.

Profil singkat Umbu Wulang Landu Paranggi

Umbu Wulang Landu Paranggi lahir di Kananggar, Paberiwai, Sumba Timur, 10 Agustus 1943.

Ia merupakan seniman berkebangsaan Indonesia yang sering disebut sebagai tokoh misterius dalam dunia sastra Indonesia sejak 1960-an.

Namanya dikenal melalui karya-karyanya berupa esai dan puisi yang dipublikasikan di berbagai media massa.

Umbu merupakan penyair sekaligus guru bagi para penyair muda pada zamannya, antara lain Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), Eko Tunas, Linus Suryadi AG, dan lain-lain.

Pada tahun 2020, ia mendapatkan penghargaan dari Festival Bali Jani di bidang sastra.

Dia pernah dipercaya mengasuh rubrik puisi dan sasatra di Pelopor Yogya, dan rubrik Apresiasi di Bali Post.

Cerita tentang Umbu pernah ditulis Emha Ainun Nadjib di laman caknun.com miliknya.

Bagaimana Cak Nun pertama bertemu dengan Umbu dan belajar tentang apa yang disebutnya sebagai Kehidupan Puisi.

Pendidikan:

  • SMA BOPKRI Yogyakarta.
  • Sarjana Sosiatri, Fakultas Ilmu Sosial Politik, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
  • Sarjana Hukum, Universitas Janabadra, Yogyakarta.

Kumpulan Puisi Umbu Landu Paranggi

Penelusuran Tribun-timur.com, puisi Umbu Landu Paranggi atau Presiden Malioboro dapat dijumpai di web http://umbulanduparanggi.blogspot.com/:

Dalam web tersebut, puisi Umbu Landu Paranggi dibagi atas dua, periode Bali (8 puisi) dan Periode Yogyakarta (30 puisi).

Berikut beberapa puisi Umbu Landu Paranggi:

  • Ibunda Tercinta

Perempuan tua itu senantiasa bernama:
duka derita dan senyum yang abadi
tertulis dan terbaca jelas kata-kata puisi
dari ujung rambut sampai telapak kakinya

Perempuan tua itu senantiasa bernama:
korban, terima kasih, restu dan ampunan
dengan tulus setia telah melahirkan
berpuluh lakon, nasib dan sejarah manusia

Perempuan tua itu senantiasa bernama:
cinta kasih sayang, tiga patah kata purba
di atas pundaknya setiap anak tegak berdiri
menjangkau bintang-bintang dengan hatinya dan janjinya

(1965)
Sumber : Tonggak 3 : Antologi Puisi Indonesia Modern (ed) Linus Suryadi AG, Gramedia, Jakarta, 1987 (halaman 244). Puisi ini diambil dari Manifes, Antologi Puisi 9 Penyair Yogya, Yogyakarta, 1968.

  • Percakapan Selat

Pantai berkabut di sini, makin berkisah dalam tatapan
sepi yang lalu dingin gumam terbantun di buritan
juluran lidah ombak di bawah kerjap mata, menggoda
di mana-mana, di mana-mana menghadang cakrawala

Laut bersuara di sisi, makin berbenturan dalam kenangan
rusuh yang sampai, gemas resah terhempas di haluan
pusaran angin di atas geladak, bersabung menderu
di mana-mana, di mana-mana, mengepung dendam rindu

Menggaris batas jaga dan mimpikah cakrawala itu
mengarungi perjalanan rahasia cintakah penumpang itu
namun membujuk jua langkah, pantai, mega, lalu burung-burung

Mungkin sedia yang masuk dalam sarang dendam rindu
saat langit luputkan cuaca dan laut siap pasang
saat pulau-pulau lengkap berbisik, saat haru mutlak biru

(1966)
Keterangan : versi 1, Sumber : Tonggak 3, Antologi Puisi Indonesia Modern (ed) Linus Suryadi AG, Gramedia, Jakarta, 1987 (halaman 240). Puisi ini diambil dari Pelopor Yogya, 18 Januari 1970.

Dari Pura Tanah Lot

inilah bunga angin dan tirta air kelapa muda
para peladang yang membalik balik tanah dengan tugal
agar bermuka muka langit tinggal serta dalamku

bercocok tanam mengidungkan musik dwitunggal
dan seruling tidur ayam di dangau pinggir tegalan
atau sepanjang pematang sampai ke batang air
duduklah bersila di atas tumpukan
batu batu karang ini lakon lakon
rumput dan sayur laut mengirimkan gurau ombak
seraya uap air memercik pedihku

beribu para aku sebrang sana datang
mengabadikanmu pasang naik pasang surut
dan kini giliran asal bunyi sunyiku menggapai puncak meru
ke gunung gunung agung tengadah mataku mengail ufuk
tak teduh mengairi kasihku

sumber : Majalah Kolong Budaya No. 3 Th. I / 1996

  • Sajak Dalam Angin

Sebelum sayap senja
(daun-daun musim)
Sebelum hening telaga
(burung-burung malam)
Sebelum gunung ungu
(bisik suara alam)
Sebelum puncak sayu
(napas rindu dendam)
Sebelum langkah pengembara
(hati buruan cakrawala)
Sebelum selaksa kata
(sesaji upacara duka)
Sebelum cinta itu bernama
(sukma menguji cahaya)
Sebelum keningmu mama
(kembang-kembang telah bunga)
Sebelum bayang atau pintumu
(bahasa berdarah kenangan maya)
Kabut itu dikirimkan hutan
Gerimis itu ke padang perburuan
Gema yang itu dari gua purbani
Merendah: dingin, kelu dan sendiri
Namaku memanggil-manggil manamu
Lapar dahaga menghimbau
Dukamu kan jadi baka sempurna
Dan dukaku senantiasa fana

(Yogya, 1968)
Sumber : Tonggak 3, Antologi Puisi Indonesia Modern (ed) Linus Suryadi AG, Gramedia, Jakarta, 1987 (halaman 240-241). Puisi ini diambil dari Pelopor Yogya, Minggu, 26 April 1970.

  • Apa Ada Angin di Jakarta

Apa ada angin di Jakarta
Seperti dilepas desa Melati
Apa cintaku bisa lagi cari
Akar bukit Wonosari

Yang diam di dasar jiwaku
Terlontar jauh ke sudut kota
Kenangkanlah jua yang celaka
Orang usiran kota raya

Pulanglah ke desa
Membangun esok hari
Kembali ke huma berhati

Sumber : “Apa Ada Angin di Jakarta” dalam Indonesia Bagian Sangat Penting dari Desa Saya, oleh Emha Ainun Nadjib, 1983. Sala : PT Jatayu

  • Sajak Kemarau

berapa musim panas lagi rindu, kenang satu baris puisi
jantung yang akan terbakar hangus semesta basa sunyi
yang menyihir padang-padang tandus, ke laut lepas tabir biru
melulur bayang-bayang di pasir waktu: rahasia cintaku.

Sumber Majalah Pusara, September 1973

  • Sabana

memburu fajar
yang mengusir bayang-bayangku
menghadang senja
yang memanggil petualang

sabana sunyi
di sini hidupku
sebuah gitar tua
seorang lelaki berkuda

sabana tandus
mainkan laguku
harum napas bunda
seorang gembala berpacu

lapar dan dahaga
kemarau yang kurindu
dibakar matahari
hela jiwaku risau
karena kumau lebih cinta
hunjam aku ke bibir cakrawala

Sumber : “Persada Studi Klub dan Sajak-sajak Presiden Malioboro” dalam Suara Pancaran Sastra : Himpunan Esai dan Kritik, Korrie Layun Rampan, Yayasan Arus Jakarta, 1984.

  • Melodia

Cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan
karena sajak pun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan
baiknya mengenal suara sendiri dalam mengarungi suara-suara luar sana
sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi, membawa langkah ke mana saja

Karena kesetiaanlah maka jinak mata dan hati pengembara
dalam kamar berkisah, taruhan jerih memberi arti kehadirannya
membukakan diri, bergumul dan menyeri hari-hari tergesa berlalu
meniup deras usia, mengitari jarak dalam gempuran waktu

Takkan jemu napas bergelut di sini, dengan sunyi dan rindu menyanyi
dalam kerja berlumur suka-duka, hikmah pengertian melipur damai
begitu berarti kertas-kertas di bawah bantal, penanggalan penuh coretan
selalu sepenanggungan, mengadu padaku dalam manja bujukan

Rasa-rasanya padalah dengan dunia sendiri manis, bahagia sederhana
di rumah kecil papa, tapi bergelora hidup kehidupan dan berjiwa
kadang seperti terpencil, tapi gairah bersahaja harapan impian
yang teguh mengolah nasib dengan urat biru di dahi dan kedua tangan

Sumber : Tonggak 3, Antologi Puisi Indonesia Modern (ed) Linus Suryadi AG, Gramedia, Jakarta, 1987 (halaman 243-244). Puisi ini diambil dari Manifes: Antologi Puisi 9 Penyair Yogya, Yogyakarta, 1968.  (Tribun-timur.com/ Sakinah Sudin )

Sumber: Tribun Timur
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved