Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tribun Opini

Agama, Ketenangan dan Ketegangan Sosial

Empat belas abad yang lalu seorang nabi diutus ke tengah-tengah masyarakat yang mendiami padang pasir kering, kosong dan tandus.

Editor: Sudirman
ist
Muhammad Musmulyadi 

Oleh: Muhammad Musmulyadi

Ketua Forum Lingkar Pena UIN Alauddin Makassar / Mahasiswa Fak. Ushuluddin

Empat belas abad yang lalu seorang nabi diutus ke tengah-tengah masyarakat yang mendiami padang pasir kering, kosong dan tandus.

Dimana masyarakatnya memiliki egoisitas dan loyalitas kesukuan yang sangat tinggi. Maka tak heran meskipun jumlah mereka sedikit tapi perselisihan diantara mereka tinggi.

Dalam kurung waktu 23 tahun nabi tersebut berhasil melakukan lompatan besar dalam transformasi sosial di Jazirah Arab.

Dari bangsa yang dikenal suka berperang dan berpecah menjadi bangsa bersatu. Dari kaum pemabuk dan pengacau menjadi kaum pemikir dan penyabar.

Dari kaum tak tertib hukum menjadi kaum teratur. Dari kebobrokan dan kebiadaban menuju keagungan moral.

Nabi tersebut adalah sang pejuang, sang pengusaha, sang negarawan, sang orator ulung, sang inovator, sang pelindung anak yatim, sang pemerdeka hamba sahaya, sang hakim, dan sang pemuka agama, sosok tersebut bernama Muhammad Saw (Dalam tulisan Visi Integrasi Maulid Nabi, oleh Muhbib Abdul Wahab, Dosen Pascasarjan UIN Jakarta, 2020).

Tapi hari hari ini di tempat yang jauh dari padang pasir kering nan tandus, justru kita melakukan
hal sebaliknya dari apa yang telah susah payah dilakukan sebelumnya oleh sang Nabi Cinta.

Ketika dulu nabi berupaya untuk menyatukan suku-suku yang terus bersiteru dan berkonflik, kita malah berlomba-lomba mendirikan sekte-sekte kebencian, melempar batu besar yang menyebabkan perpecahan.

Kita sebenarnya beragama hanya saja sedang mengalami kemabukan, meskipun kita terlihat beragama namun tetap saja kekacauan masih kita pelihara.

Pasca berpulangnya sang utusan pun, ummat tidak bisa terlepaskan dari konflik, sejarah mencatatitu dan kita  harus menerima.

Dari persoalan politik kemudian merambah ke persoalan teologi serta berbagai perselisishan antar sesama pemeluk agama yang sama maupun yang beda.

Beragam persoalan, mulai dari persoalan kecil kemudian membesar. Dari persoalan individu
kemudian melebar menjadi persoalan kelompok.

Keributan Kita sudah melewati tahun-tahun yang panjang, mempermasalahkan hal yang sama setiaptahunnya  secara berulang-ulang.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved