Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

OPINI

Analisa Kegawatan di Masa Pandemi

Sejak tanggal 31 Desember 2019 WHO telah mengidentifikasi adanya kasus  kluster pneumonia dengan etiologi yang tidak jelas di kota Wuhan, Tiongkok

Penulis: CitizenReporter | Editor: Suryana Anas
Dok Pribadi
N. Tri Suswanto Saptadi (Dosen Informatika Universitas Atma Jaya Makassar (UAJM), Ketua Bidang 3 Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Sarjana Katolik Indonesia Sulawesi Selatan (DPD ISKA Sulsel) 

Oleh: N Tri Suswanto Saptadi (Dosen Informatika Universitas Atma Jaya Makassar (UAJM), Ketua Bidang 3 Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Sarjana Katolik Indonesia Sulawesi Selatan (DPD ISKA Sulsel)

Sejak tanggal 31 Desember 2019 WHO telah mengidentifikasi adanya kasus  kluster pneumonia dengan etiologi yang tidak jelas di kota Wuhan Provinsi Hubei Negara Tiongkok.

Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) merupakan penyakit yang disebabkan oleh Coronavirus jenis baru.

Secara medis, gejala klinis yang terjadi adalah demam, batuk, pilek, letih, lesu, sakit tenggorokan, hingga gangguan (sesak) pernapasan.  

Kehadiran wabah ini, telah menyebabkan terjadinya kegawatan.

Seperti, tingginya angka yang terpapar, kematian yang tinggi, tingkat kesembuhan rendah, masyarakat yang tidak disiplin protokol covid, keterbatasan jumlah rumah sakit, terbatasnya APD, taraf ekonomi yang rendah, dan terdapatnya pimpinan daerah yang sakit bahkan hingga meninggal dunia.

Kondisi dan Kendala

Perkembangan dunia per 1 Desember 2020, terdapat 64.116.363 kasus, 1.484.812 meninggal dan 44.324.716 sembuh.

Urutan negara dengan kasus tertinggi adalah USA, India, Brasil, sementara Indonesia diurutan ke-22.

Meskipun di Asia menempati urutan ke-5 setelah India, Iran, Turki, dan Irak, namun Indonesia hingga 30 November 2020 terdapat 538.883 pasien positif, 450.518 sembuh, dan 16.945 yang meninggal dengan 6 (enam) daerah DKI Jakarta 136.861 kasus, Jawa Timur 61.883 kasus, Jawa Tengah 55.896 kasus, Jawa Barat 52.517 kasus, Sulawesi Selatan 20.657 kasus, dan Riau 20.075 kasus. Kondisi risiko ini juga diketahui dengan terdapatnya 20 kab/kota risiko tinggi, 360 kab/kota risiko sedang, 115 kab/kota risiko rendah, 7 kab/kota tidak ada kasus baru, dan 12 kab/kota tidak terdampak.

Mencermati data tersebut, Indonesia mengalami darurat corona di mana terdapat indikator kesehatan masyarakat (zonasi risiko) yang meliputi epidemiologi, surveilans kesehatan masyarakat, dan pelayanan kesehatan.

Sebagai contoh potret masyarakat tidak disiplin terhadap protokol kesehatan di berbagai daerah di Indonesia.

Terbatasnya jumlah rumah sakit rujukan Penyakit Infeksi Emerging (PIE) dapat menyebabkan penanganan menjadi terkendala dan kurang maksimal.

Berdasarkan informasi dari kementerian kesehatan telah menunjuk 132 RS rujukan di seluruh Indonesia.

Taraf ekonomi rendah juga membuat masyarakat berani (nekat) untuk tetap beraktifitas dengan hadirnya pasar tradisional yang menjadi kluster penularan, para pedagang kaki lima tetap berjualan semasa PSBB, dan faktor kesehatan yang diabaikan demi mencari nafkah untuk keluarga.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Yokohama

 

Ayo, ke Timur

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved