Cerita dari Enrekang
Negeri di Atas Cahaya
Terhampar berundak mengikuti kontur tanah Bumi Massenrempulu nan sentosa.
Bahasa daerah yang digunakan di Kabupaten Enrekang secara garis besar terbagi atas 3 bahasa dari 3 rumpun etnik yang berbeda. Yaitu bahasa Duri, Enrekang dan Maiwa.
Bahasa Duri dituturkan oleh penduduk di Kecamatan Alla, Baraka, Malua, Buntu Batu, Masalle, Baroko, Curio dan sebagian penduduk di Kecamatan Anggeraja.
Bahasa Enrekang dituturkan oleh penduduk di Kecamatan Enrekang, Cendana dan sebagian penduduk di Kecamatan Anggeraja.
Bahasa Maiwa dituturkan oleh penduduk di Kecamatan Maiwa dan Kecamatan Bungin.
Karena sebagian besar daerahnya adalah pegunungan, maka tanah Enrekang sangat subur.
Sehingga sebagian besar penduduk menggantungkan hidup dari hasil pertanian.
Kopi Kalosi, salah satu hasil perkebunan andalan Enrekang.
Selaras dengan itu, daerah pegunungan tentu menyajikan pemandangan yang indah.
Di bukit mana pun Anda berdiri, pemandangan lembah nan eksotis memanjakan mata.
Hal ini memicu pemuda-pemudi kreatif Enrekang membuat spot-spot wisata di puncak-puncak bukit di sepanjang jalan poros Enrekang-Toraja.
Ada yang sekadar menawarkan pemandangan, ada juga yang menambahkannya dengan kegiatan outbound. Antara lain, Dante Pine dan Cekong Hills.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/lampu-pengusir-hama-jadi-objek-wisata-baru-enrekang-dijuluki-negeri-di-atas-cahaya.jpg)