Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Cerita dari Enrekang 

Negeri di Atas Cahaya

Terhampar berundak mengikuti kontur tanah Bumi Massenrempulu nan sentosa.

Editor: Imam Wahyudi
Ohe Syam Suharso
Panorama keindahan kelap-kelip lampu di perkebunan bawang merah disaksikan dari puncak Gunung Lakawan, Enrekang. 

Oleh Imam Wahyudi

AKHIR Oktober 2020 saya menyempatkan mudik.
Di Desa Bontongan, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang, Sulawesi.
Itu 17 bulan sejak mudik Idulfitri 2019. Semua karena corona.

Diturunan panjang sebelum Pasar Cakke, Kecamatan Anggeraja, Enrekang, sekitar pukul 19.30 wita.
Nengok ke kanan dan heran.

“Lampu-lampu Kota Enrekang terlihat dari jalan ini? Kenapa baru terlihat sekarang?
Bukan. Itu bukan Kota Enrekang. Sepertinya kota Kecamatan Baraka.
Ah, nggak mungkin juga. Masa iya, cahaya Baraka segemerlap itu.
Berkelompok-kelompok memancarkan sinar putih, kuning, merah, dan ungu,” batinku.

Memasuki daerah Balla, antara Cakke dan Baraka, penasaran terjawab.
Kelap kelip sinar itu bukan sebuah kota. Tapi kebun bawang merah. Terhampar berundak mengikuti kontur tanah Bumi Massenrempulu nan sentosa.

Per dua meter, satu lampu 5 watt atau kurang, digantung di satu tiang kayu kecil yang ditancap. Menerangi setiap jengkel kebun. 

Sok tahuku menjawab sendiri tanyaku. "Mungkin untuk usir babi".

Dua hari kemudian barulah saya mendapat penjelasan dari kawanku, Adam Djumadin dan Khairuddin, saat ngopi malam di Sudu, ibukota Kecamatan Alla, Enrekang.

“Cahaya menarik hama 'kupu-kupu putih'. Panas lampu membunuhnya.”

Begitu kira-kira kesimpulan dari penjelasan dua orang kawanku yang putra asli Duri itu. 

Dengan lampu itu, petani tak perlu sering menyemprotkan pestisida.

Mengurangi biaya pestisida sekitar 30 persen.

Kualitas bawang juga semakin baik karena tak selalu minum racun.

Petani bawang makmur, anak-anak ‘senja’ terlena.

Beramai-ramai ke puncak bukit, mendirikan tenda, menyeduh kopi, bercengkerama, sambil memandangi warna-warni malam dingin di tanah Duri.

Yang menikmati dalam sunyi, merangkai puisi tentang semesta.

Mencipta tiga kata untuk julukan baru Enrekang. 'NEGERI DI ATAS CAHAYA’.

Tanah Tertinggi di Sulawesi

Enrekang adalah anugerah bagi Sulawesi Selatan.

Sebab di kabupaten penghasil beras ketan termahal di dunia ini, Pulu' Mandoti, Tuhan menempatkan tanah tertinggi Pulau Sulawesi.

Namanya Puncak Rante Mario, satu dari tujuh puncak di Pegunungan Latimojong dengan ketinggian 3.478 meter di atas permukaan laut.

Rante Mario, yang lazimnya disebut Gunung Latimojong saja, satu dari 7 puncak tertinggi di Indonesia.

Anak-anak gunung menyebutnya seven summit.

Enam gunung lainnya adalah Semeru di Pulau Jawa, Rinjani di Pulau Nusa Tenggara, Kinabalu mewakili Pulau Kalimantan, Binaiyya  ada di Pulau Maluku, Kerinci di Pulau Sumatera dan Cartens yang paling tinggi di Indonesia dan bersalju, ada di Pulau Papua.

Melansir enrekangkab.go.id, luas wilayah kabupaten dengan nama lain Massrenmpulu ini adalah 1.786,01 km² dengan jumlah penduduk kurang lebih 190.579 jiwa.

Ada 12 kecamatan dengan 17 kelurahan dan 113 desa di Enrekang.

Massenrempulu artinya meminggir gunung atau menyusur gunung.

Sedangkan sebutan Enrekang dari kata endeg yang artinya naik dari atau panjat. Dari sinilah asal mula  sebutan Endekan lalu menjadi Enrekang.

Dari segi sosial budaya, masyarakat Kabupaten Enrekang memiliki kekhasan tersendiri.

Hal tersebut disebabkan karena kebudayaan Enrekang (Massenrempulu) berada di antara kebudayaan Bugis, Mandar dan Tana Toraja.

Bahasa daerah yang digunakan di Kabupaten Enrekang secara garis besar terbagi atas 3 bahasa dari 3 rumpun etnik yang berbeda. Yaitu bahasa Duri, Enrekang dan Maiwa.

Bahasa Duri dituturkan oleh penduduk di Kecamatan Alla, Baraka, Malua, Buntu Batu, Masalle, Baroko, Curio dan sebagian penduduk di Kecamatan Anggeraja.

Bahasa Enrekang dituturkan oleh penduduk di Kecamatan Enrekang, Cendana dan sebagian penduduk di Kecamatan Anggeraja.

Bahasa Maiwa dituturkan oleh penduduk di Kecamatan Maiwa dan Kecamatan Bungin.

Karena sebagian besar daerahnya adalah pegunungan, maka tanah Enrekang sangat subur.

Sehingga sebagian besar penduduk menggantungkan hidup dari hasil pertanian.

Kopi Kalosi, salah satu hasil perkebunan andalan Enrekang.

Selaras dengan itu, daerah pegunungan tentu menyajikan pemandangan yang indah.

Di bukit mana pun Anda berdiri, pemandangan lembah nan eksotis memanjakan mata.

Hal ini memicu pemuda-pemudi kreatif Enrekang membuat spot-spot wisata di puncak-puncak bukit di sepanjang jalan poros Enrekang-Toraja.

Ada yang sekadar menawarkan pemandangan, ada juga yang menambahkannya dengan kegiatan outbound. Antara lain, Dante Pine dan Cekong Hills. 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved