Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

UU Cipta Kerja

Ini Kekhawatiran Gatot Nurmantyo Soal UU Cipta Kerja Saat Bincang di Kanal Youtube Karni Ilyas Club?

Gatot juga mengkhawatirkan perbedaan karakteristik tenaga kerja dari asing khususnya China yang ulet dengan tenaga kerja dari Indonesia

Editor: Arif Fuddin Usman
tribunnews
Jenderal Gatot Nurmantyo Tak Kecewa Meski 2 Kali Ditolak Kepolisian Jenguk Petinggi KAMI 

TRIBUN-TIMUR.COM - Ini Kekhawatiran Gatot Nurmantyo Soal UU Cipta Kerja jika nanti benar-benar diberlakukan.

Hal itu diutarakan Gatot Nurmantyo saat hadir sebagai bintang tamu di Kanal Youtube Karni Ilyas Club.

Baca juga: Kritikan KAMI Ormas Gatot Nurmantyo Dianggap Sebelah Mata Pemerintah, Mahfud MD : Gak Ada yang Baru

Baca juga: Bukti kedewasaan Jenderal Gatot Nurmantyo, Tak Kecewa Meski Ditolak Kepolisian Jenguk Petinggi KAMI

Mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo mengungkapkan kekhawatirannya terkait Omnibus Law Undang-Undang (UU) Cipta Kerja.

Gatot mengungkapkan kekhawatirannya tersebut berasal dari suara rakyat.

Meski ia mengaku belum membaca sepenuhnya isi dari UU yang tengah menjadi polemik tersebut.

Mengenal Gatot Nurmantyo Mantan Panglima TNI yang Disebut Ingin Jadi Presiden Setelah Dirikan KAMI
Mengenal Gatot Nurmantyo Mantan Panglima TNI yang Disebut Ingin Jadi Presiden Setelah Dirikan KAMI (Tribunnews)

Kekhawatiran tersebut ia rasakan setelah mencoba memposisikan dirinya sebagai buruh atau tenaga kerja.

"Ini kan khawatir yang mendasar," kata Gatot saat wawancara dengan Karni Ilyas dalam tayangan bertajuk Karni Ilyas Club.

Baca juga: Kecewanya Gatot Nurmantyo, Tak Bisa Bertemu Jenderal Idham Azis dan Jenguk Aktivis KAMI di Bareskrim

Baca juga: Deretan Kejanggalan Penangkapan Aktivis KAMI Menurut Gatot Nurmantyo, Apa Saja?

Tayangan itu bertajuk "Manuver Jenderal Gatot" yang tayang perdana di kanal Youtube Karni Ilyas Club pada Jumat (16/10/2020).

Terkait dengan tenaga kerja asing, Gatot merisaukan kondisi Indonesia saat ini yang masuk dalam fase bonus demografi di mana jumlah usia kerja produktif mendominasi.

Menurutnya saat ini tenaga kerja di Indonesia belum mampu bersaing mengingat tenaga kerja Indonesia saat ini lebih didominasi oleh tenaga kerja yang tingkat pendidikannya minim.

Selain itu ia juga mengkhawatirkan perbedaan karakteristik tenaga kerja dari asing khususnya China yang ulet dengan tenaga kerja dari Indonesia yang umumnya tidak seulet tenaga kerja China.

"Dalam kondisi banyak tenaga kerja seperti ini, yang belum bisa terpenuhi dan masih ada pengangguran, kalau ada masuk tenaga kerja dari luar, ini kan sulit bersaing," kata Gatot.

Selain itu, ia juga mengkhawatirkan dari sisi keamanan dengan mengambil contoh dari Singapura.

"Justru dari segi keamanan, sangat berbahaya. Saya tidak bermaksud untuk menjelek-jelekan suatu negara dan sebagainya.

Tapi kita belajar dari pengalaman. Singapura saat menerapkan negara industri, itu kan mengambil tenaga dari China walaupun tanpa bekerja sama dengan China.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved