'Pak Ogah' Marak Lagi, Ketua MPKJR Sulsel Tawarkan Solusi Ini
Ia mencontohkan 'Pak Ogah' yang beroperasi di perempatan Jl Antang Raya-Bukit Baruga, Makassar.
Penulis: Muslimin Emba | Editor: Imam Wahyudi
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Keberadaan 'Pak Ogah' sebenarnya tidak serta merta merugikan dan meresahkan. Dalam keadaan dan kondisi tertentu kehadirannya sebagai 'Pembuka Jalan'.
Seperti itulah yang diungkapkan Ketua Masyarakat Peduli Keselamatan Jalan Raya (MPKJR) Sulawesi Selatan Munzil, Rabu (30/9/2020) malam.
Ia mencontohkan 'Pak Ogah' yang beroperasi di perempatan Jl Antang Raya-Bukit Baruga, Makassar.
Menurut Munzil, perempatan langganan macet di waktu padat pagi dan sore hari itu, kerap diurai oleh kehadiran 'Pak Ogah'.
"Bertahun-tahun, setiap hari perempatan ini 'dikuasai' Pak Ogah. Namun, kesan arogan dan asal asalan mengatur tidak terlihat di sosok Pak Ogah yang satu ini, sangat trampil dengan hanya bermodal isyarat tangan tak ada pluit, semua teratur dan tertib," ujar Munzil.
Apa yang terjadi di jalur U-turn sepanjang Jl Perintis Kemerdekaan dan sejumlah jalan protokol lainnya, kata dia perlu disikapi dengan bijak.
Pasalnya, menurut Munzil, kehadiran 'Pak Ogah' di jalur U-turn itu biasanya setelah petugas dinas perhubungan atau polisi lalu lintas meninggalkan lokasi.
"Biasanya selepas pak polisinya beranjak, biasanya kehadiran Pak Ogah dengan jam terbang rendah justru malah dapat mengakibatkan kemacetan panjang. Terkadang tidak memperhatikan situasi dan kondisi lalin saat itu dan cenderung mendahulukan kendaraan yang akan berputar arah," ujar Munzil.
Upaya penertiban yang dilakukan aparat berwenang, menurut Munzil perlu ditelaah ulang.
Sebab, telah berulang kali penertiban dilakukan, namun fakta lapangannya masih saja didapati 'Pak Ogah' yang menguasai jalur U-turn.
"Indikasi bahwasanya cara ini perlu di telaah ulang. Sebenarnya tidak kita pungkiri keberadaan Pak Ogah illegal, tak ada payung yang membisakan mereka menjadi pengatur di jalan raya," terangnya.
Jumlah personel dan titik rawan kemacetan di jalur U-turn kata dia, juga menjadi salah satu celah kehadiran 'Pak Ogah'.
"Mereka (Pak Ogah) melihat ada kebutuhan di sektor ini yang belum sepenuhnya bisa di tangani pemerintah. Jadi perlu win-win solution," papar Munzil.
Salah satu win-win solution yang ditawarkan Munzil ialah dengan memberdayakan 'Pak Ogah'.
Pemberdayaan itu, kata dia tentunya diperlukan bekal keterampilan dan reward atau jawaban kebutuhan hidup para 'Pak Ogah'.
"Menangani Pak Ogah harus melibatkan banyak pihak, jika memang ingin di berdayakan. Ada urusan besar yang tidak bisa dikesampingkan dalam penanganannya, urusan hidup," jelas Munzil.
"Sesuatu hal yang ditangani bukan ahlinya maka cenderung berakibat fatal. Kaarena insiden itu sebenarnya bisa di ukur, incident can be measure," tuturnya.
Rabu siang, terpantau di jalur U-turn Jl Veteran Selatan dekat perempatan Jl Sungai Saddang Lama-Sungai Saddang Baru.
Sedikitnya lima hingga tujuh orang 'Pak Ogah' tampak sibuk mengatur kendaraan yang hendak berbalik arah di jalur U-turn tersebut.
Beberapa dari mereka mengenakan penutup kepala dengan kaos bekas.
Kendaraan yang hendak putar balik dihampiri sembari menunggu pengemudi menurungkan kaca dan menyodorkan uang pecahan Rp 2000.
Ada yang menyetor, ada pula yang terlihat cuek meski dipepeti hingga berputar arah.
Pemandangan yang sama terlihat di jalur U-turn Jl Sultan Alauddin, Makassar.
Tepat di depan kampus Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM) terlihat lebih kurang lima bocah dan remaja sibuk mengatur kendaraan yang hendak berpitar arah.
Modusnya sama, menahan laju kendaraan dari arah lainnya, lalu mempersilahkan kendaraan yang hendak memutar arah melaju.
Saat kendaraan dipersilahkan memutar arah, sang 'Pak Ogah' pun memepet ke pitu depan mobil tepatnya di kabin kemudi sembari mengharap kaca mobil diturungkan lalu menyodorkan uang.
Terkadang, kepadatan kendaraan tidak terhidarkan seketikan mobil yang hendak memutar arah disusul sejumlah mobil di belakangnya.
Beberapa bulan lalu, petugas Dinas Perhubungan dan Dinas Sosial kerap melakukan razia 'Pak Ogah'.
Mereka yang terjaring dibawa ke kantor Dishub Makassar lalu dicukuri botak atau plontos.
Tidak hanya itu , mereka yang terjaring juga diminta menandatangi surat pernyataan agar tidak mengulangi perbuatannya.
Namun, seiring waktu berjalan, pemandangan serupa oleh petugas Dishub Makassar nyaris tidak terlihat lagi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/pak-ogah-di-ja098.jpg)