Cerita Menegangkan Komandan Korps Marinir Bebaskan ABK MV Sinar Kudus Dari Penyanderaan Perompak
"bila diperlukan aksi militer, laksanakan pendaratan ke pantai untuk menunjukan bahwa kita punya kedaulatan & harga diri tidak bisa diinjak-injak"
TRIBUN-TIMUR.COM - Pada suatu pagi di tahun 2011 Komandan Korps Marinir Mayjen TNI (Mar) Suhartono dilantik untuk kedua kalinya sebagai Komandan satuan khusus penanggulangan teror aspek laut Detasemen Jala Mangkara (Denjaka).
Belum genap sehari menjabat sebagai Komandan Denjaka untuk kedua kalinya, pada malam harinya Suhartono menerima kabar bahwa kapal MV Sinar Kudus yang membawa 20 orang Anak Buah Kapal (ABK) Warga Negara Indonesia (WNI) dibajak.
Malam itu juga Suhartono mengumpulkan para perwira di jajarannya untuk membuat perencanaan cepat terkait informasi tersebut.
• Kalimat Sarat Makna Jokowi di HUT PAN Banyak Orang Nikmati Enak, Terusik Jika Dilakukan Perubahan
Keesokan harinya ia bersama Komandan Korps Marinir TNI AL dipanggil menghadap Kepala Staf Angkatan Laut.
Di sana ia diperintahkan untuk segera menyiapkan pasukan yang akan ditugaskan membebaskan para ABK yang disandera perompak Somalia tersebut.
Pasukan tersebut kemudian bergabung dengan Satgultor 81 Kopassus dalam Satgas Merah Putih yang dibentuk Panglima TNI.
Ada tiga target utama dalam operasi tersebut.
Pertama adalah membebaskan seluruh WNI yang disandera di kapal.
Kedua merebut kembali MV Sinar Kudus dan membawanya kembali ke perairan Indonesia ataupun melanjutkan perjalanan ke luar negeri sesuai dengan rencana pelayaran sebelumnya.
"Ketiga, bila diperlukan aksi militer, laksanakan pendaratan ke pantai untuk menunjukan bahwa kita itu punya kedaulatan dan harga diri kita tidak bisa diinjak-injak. Sehingga mau tidak mau TNI harus turun tangan," ungkap Suhartono dalam tayangan Podcast Puspen TNI Episode 7 yang diunggah di kanal Youtube resmi Puspen TNI pada Sabtu (22/8/2020).
Peran Intelijen
Berdasarkan target tersebut, operasi pembebasan sandera itu terbilang sukses karena seluruh sandera berhasil selamat dan kapal melanjutkan pelayaran ke Wa Salala Oman untuk kemudian menuju Rotterdam Belanda.
Di samping kemampuan pasukan khusus antiteror TNI yang terlatih dan mumpuni, faktor lain yang juga penting dalam suksesnya operasi rahasia tersebut adalah peran intelijen.
Suhartono mengungkapkan dalam operasi tersebut pihaknya juga mengandalkan operasi intelijen terutama untuk mengetahui pergerakan dari kapal MV Sinar Kudus.
Hal itu mengingat MV Sinar Kudus terus bergerak setelah dikuasi para perompak untuk membajak kapal niaga lainnya.