Kolom Teropong
Kemerdekaan
Sejarah perjalanan bangsa ini penuh suka dan duka silih berganti. Ada haru dan tangis, ada pula tawa lepas yang merekah
Penulis: CitizenReporter | Editor: Suryana Anas
Oleh: Abdul Gafar, Dosen Ilmu Komunikasi Unhas Makassar
Sejarah perjalanan bangsa ini penuh suka dan duka silih berganti. Ada haru dan tangis, ada pula tawa lepas yang merekah. Itulah dinamika kehidupan dalam perputarannya.
Atas jasa dan perjuangan yang tidak mengenal lelah dari pendahulu kita, akhirnya Indonesia menyatakan kemerdekaannya.
Tetesan darah dan air mata yang berurai telah memberi semangat bagi bangsa ini untuk menyatakan kemerdekaannya dari tangan penjajah.
Cukup lama kita merasakan penjajahan. Betapa banyak kekayaan alam kita terkuras dibawa pergi oleh penjajah. Sebagai anak bangsa kita diperhadapkan pada politik pecah belah sehingga susah membentuk satu kekuatan besar melawan penjajah.
Sangat terasa kehidupan berbangsa dan bernegara kita tahun demi tahun. Urusan dengan pihak penjajah memang telah kita lewati. Hari ini kita memeringati 75 tahun kemedekaan kita dari tangan penjajah asing. Sebuah perjalanan panjang dalam mengisi kemerdekaan hari-hari ini untuk kemajuan dan kemaslahatan bangsa.
Para pejuang yang kini menghuni ‘bawah tanah’ dengan patok namanya terukir jelas, ataupun yang ‘hilang’ entah di mana kuburya telah selesai tugasnya. Sekarang, tugas kita generasi saat ini adalah bagaimana agar Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap berada dalam kedaulatan dan kekuasaan bangsa kita. Mereka akan menangis pilu jika kita yang saat ini tidak mampu mengisi kemerdekaan yang telah mereka perjuangkan dengan mengorbankan harta dan jiwanya.
Sebagai negara besar, kita diperhadapkan kepada persoalan menjaga harkat dan martabat sebagai bangsa pejuang.
Kemerdekaan yang kita peroleh bukanlah sebuah ‘hadiah’, melainkan ditempuh dengan berdarah-darah hingga jiwa melayang. Oleh karena itu, sungguh berdosanya kita, apabila negara ini sampai ‘tergadai’ oleh negara asing.
Memang kita pun menyadari bahwa kondisi global dunia akan turut memengaruhi keberlangsungan sebuah negara. Hubungan antarnegara tetap diperlukan. Namun dalam suasana saling menghargai kedaulatan masing-masing.
Kewajiban negara adalah bagaimana mencerdaskan dan melindungi segenap tumpah darah Indonesia. Pencerdasan dapat dilakukan secara formal maupun informal.
Demikian pula perlindungan terhadap setiap warga negara Indonesia di manapun berada. Negara ada didalamnya. Bukan negara ‘hanya’ sebagai penonton dari luar. Biarkan mereka mengurusi dirinya sendiri.
Kita telah merdeka 75 tahun. Itu pengakuan. Tetapi masih saja ada suara ‘sumbang’ dari rakyat kita, betulkah kita sudah merdeka?
Sebuah pernyataan kritis ataukah semacam sinisme melihat negara ini diurus? Jika melihat realitas yang ada, mungkin saja memang keadilan belum menjadi milik kita semua.
Ada yang merasa diperlakukan secara tidak adil sebagai anak bangsa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/abdul-gafar-dosen-ilmu-komunikasi-unhas-makassar-1882020.jpg)