Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tribun Bulukumba

Bekerja di Luar Daerah, Tukang Kapal Pinisi Bulukumba Keluhkan Biaya Rapid Test

Pasalnya, para tukang kapal diwajibkan mengantongi hasil rapid test saat akan bekerja di luar daerah untuk mencari nafkah.

Penulis: Firki Arisandi | Editor: Sudirman
Ist
Pekerja Kapal Pinisi, Sudirman, Jumat (5/6/2020), mendatangi kantor Desa Lembanna, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulsel, untuk menyampaikan keluhannya. 

TRIBUNBULUKUMBA.COM, BONTOBAHARI - Pekerja Kapal Pinisi di Desa Lembanna, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulsel, mengeluhkan kebijakan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Pasalnya, para tukang kapal diwajibkan mengantongi hasil rapid test saat akan bekerja di luar daerah untuk mencari nafkah.

Biaya untuk rapid test yang mencapai jutaan rupiah sekali tes, dinilai tak sepadan dengan pendapatan mereka.

Salah satu pekerja, Sudirman, Jumat (5/6/2020), mendatangi kantor Desa Lembanna untuk menyampaikan keluhannya.

Dalam penyampaiannya, Sudirman mengatakan, pandemi Covid-19 telah membuat pekerjaannya berhenti sejak November 2019.

"Dampak yang saya rasakan sangat luar biasa, tidak cuma saya tapi seluruh pekerja kapal Pinisi yang ada di desa Lembanna dan Desa Ara. Saya berhenti total sejak November 2019, setelah itu tidak ada lagi," bebernya.

Untuk dapat bertahan hidup, mereka mencari pekerjaan di luar daerah sebagai tukang kapal pinisi, namun beban mereka bertambah ketika Gugus Tugas setempat mewajibkan adanya surat keterangan sehat yang melampirkan hasil rapid test.

"Biaya rapid test sangat memberatkan bagi kami, selain ongkos perjalanan kami juga harus menyiapkan biaya rapid test yang mencapai jutaan," tambahnya.

Kepala desa Lembanna, Aspar menuturkan, Pandemi Covid-19 sangat berdampak pada kelangsungan hidup para pekerja kapal Pinisi.

"Kita sangat merasa kasihan pada mereka karena dampak corona banyak yang kehilangan pekerjaan, sehubungan dengan kegiatan pekerjaan yang seharusnya kita permudah," tuturnya.

Aspar menambahkan, 80% masyarakat desa Lembanna merupakan perantau yang harus dicarikan solusi agar tetap bekerja.

"Masyarakat kita 80% perantau, 20% pegawai dan pedagang, jadi bagaimana kita bisa pikirkan untuk dicari solusi supaya mereka bisa bekerja ditengah pandemi Covid-19 ini, jika memungkinkan ada peluang mendapat pekerjaan di luar daerah apa salahnya kita membantu melancarkan perjalanan, contohnya rapid test secara gratis untuk masyarakat," pungkasnya. (TribunBulukumba.com)

Laporan Wartawan Tribun Timur, Firki Arisandi

Langganan berita pilihan tribun-timur.com di WhatsApp

Klik > http://bit.ly/whatsapptribuntimur

Follow akun instagram Tribun Timur:

Silakan Subscribe Youtube Tribun Timur

(*)

Sumber: Tribun Timur
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved