Opini Tentang Covid 19

Opini Jelang Diskusi Forum Dosen #4: Covid-19, Virus atau Konspirasi? (Bagian Pertama)

Pukul 15.30-17.30 Wita, Forum Dosen Diskusi Virtual #4 dalam Rangka Momentum Hari Kesaktian Pancasila, Covid-19: Bisnis Atau Konspirasi.

Editor: AS Kambie
Opini Jelang Diskusi Forum Dosen #4: Covid-19, Virus atau Konspirasi? (Bagian Pertama)
dok tribun-Timur/diwan
Dr Adi Suryadi Culla, Dosen Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP Unhas & Kordinator Forum Dosen

 Oleh

Adi Suryadi Culla
Dosen Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP Unhas/Kordinator Forum Dosen

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Belakangan teori konspirasi mendadak begitu populer. Sebelumnya teori ini sebenarnya banyak diabaikan, tak layak dirujuk, bahkan dianggap “sampah” di dunia sains. Juga diserang sebagai pikiran imajinatif, spekulatif, tidak empiris. Selain itu, dituding anti rasionalitas dan obyektivitas, dan karena itu merusak normalitas publik. Benarkah? Ini telah melahirkan perdebatan dengan argumentasi panjang.

Digelar Senin (01/6/2020) pukul 15.30-17.30 wita
Digelar Senin (01/6/2020) pukul 15.30-17.30 wita (dok.tribun)

Di tengah isu pandemik Covid-19, saat ini teori konspirasi mencuat jadi buah bibir. Ini mungkin karena publik global tidak mampu secara dekonstruktif memahami berbagai isu di balik wabah ganas itu. Karena keterbatasan pengetahuan publik, lalu teori konspirasi dikonsumsi sebagai opini alternatif. Pertanyaan: apa sebenarnya teori konsprasi itu, dan apakah layak untuk menjadi rujukan dalam memahami goncangan global efek pandemik Covid-19?

Teori Konspirasi
Dalam dunia sains khususnya ilmu sosial, nampaknya teori konspirasi tak banyak dibahas. Literatur standar nyaris tidak ada. Dalam penelusuran saya hanya menemukan satu rujukan terbaik – ini pun bukan standar --- yakni teori Karl Popper dalam karya terkenalnya: The Open Society and Its Enemies (1952). Popper mendefinsikan apa yg disebutnya The Conspiracy Theory of Society sebagai suatu fenomena sosial dimana di balik itu terdapat kepentingan tersembunyi dan keberadaan fenomena itu sendiri adalah sesuatu yang direncanakan”.

Pandangan Popper terkait pikiran klasik, bahwa apapun yang terjadi di masyarakat merupakan suatu akibat dari rencana dan bentukan sekelompok individu yang berkuasa. Apa artinya? Singkatnya: konspirasi adalah produk kekuasaan atau skenario elit yang berkuasa. Ada sifat tipikal konspirasi menurut Popper sebagai fenomena sosial maupun kekuasaan, yaitu: digerakkan oleh individu yang mempercayai dan potensial dilakukan oleh mereka yang memiliki kekuasaan”. Konspirasi karena itu adalah suatu kenyataan, namun -- kata Popper : conspirators rarely consummate their conspiracy – konspirasi itu sendiri jarang benar-benar sukses.

Kamus Besar Bahasa Indoensia atau KBBI memberi makna kata konspirasi sebagai persekongkolan atau komplotan. Konspirasi adalah persekongkolan sekelompok orang dalam merencanakan sebuah kejahatan yang dilakukan dengan rapi dan sangat dirahasiakan. Pelaku konspirasi disebut dengan konspirator. Dalam konteks ini, konspirasi dipandang sebagai suatu tindakan rapi namun rahasia, tidak diketahui orang sedikit pun. Itulah sebab konspirasi sulit dibuktikan. Orang-orang mungkin hanya mampu menebak dan menduga dalam konteks pikiran skenario spekulatif.

Berikut Kamus Oxford (Oxford Dictionary), menjelaskan pengertian konspirasi sebagai suatu rencana yang sifatnya rahasia yang dilakukan oleh sekelompok orang tertentu dengan tujuan illegal atau merugikan pihak-pihak tertentu (conspiracy (noun): A secret plan by a group to do something unlawful or harmful). Dengan kata lain konspirasi dipandang sebagai tindakan yang didasari kepentingan pelaku tertentu -- orang, kelompok atau organisasi -- yang memiliki kekuasaan memadai dan berpengaruh, dan bersifat illegal atau rahasia

Mengapa atau untuk tujuan apa konspirasi dibuat? Secara sederhana, tujuannya adalah untuk menyalahkan, menyerang atau menjatuhkan suatu pihak, dengan suatu alasan. Entah alasan politik, bisnis, keamanan, dan sebagainya. Konspirasi bisa terjadi di keadaan apapun, dari tingkat global, negara, region, bahkan hingga lingkungan paling kecil skalanya seperti kampung dan mungkin di lingkungan keluarga.

Apa yang membuat teori konspirasi menarik, Michael Barkun menjelaskan sejumlah alasan asumtif : Pertama, karena dalam realitas sosial tidak ada peristiwa yang terjadi karena kebetulan saja, Kedua, karena apa yang tampak tidak selalu mencerminkan apa yang sebenarnya terjadi. Ketiga, karena segala sesuatu terjadi tidak berdiri sendiri melainkan memiliki pertautan atau saling berhubungan dengan persitiwa lainnya.

Tidak heran, jika teori konspirasi pada umumnya menyajikan fakta dan analisis logis yang berlapis-lapis untuk dihubungkan satu sama lain, sehingga membentuk suatu konteks cerita atau skenario tertentu. Konteks tersebut menjadi kian bermakna tersendiri karena pengetahuan yang digunakan untuk melakukan analisis adalah sumber-sumber pribadi atau rahasia sehingga tidak tersedia untuk pembuktian. Itulah sebab, teori konspirasi dalam banyak kasus jarang dapat dibuktikan kebenarannya. Jadi, berbeda dengan hoaks yang juga ramai jadi kosa kata publik di era tehnologi virtual saat ini, hoaks lebih bermakna berita palsu sedangkan konspirasi mungkin memiliki kebenaran faktual namun tidak diketahui oleh orang kebanyakan.

Karena banyak orang sulit membuktikan kebenarannya, maka tidak heran secara psikologis, sebagaimana dikemukan psikolog Chrisopher French bahwa teori konspirasi kemdian menimbulkan efek kebingungan. Efeknya, publik tidak dapat membedakan lagi mana yang benar dan salah. Ini makin dimungkinkan disebabkan secara alamiah manusia mempunyai kelemahan yang disebut sebagai “bias konfirmatif”. Yakni, di tengah kebingungan akhirnya publik karena kemampuan yang dimiliki dalam berpikir logis maka berusaha menemukan pola-pola hubungan yang menjelaskan hubungan sebab-akibat dari peristiwa di sekitarnya – namun rangkaian hubungan peristiwa bukan gambaran kejadian yang sesungguhnya,

Kesimpulan yang diambil publik dari peristiwa konspratif adalah lebih dilatari kegagalan dalam melihat hubungan-hubungan variable yang sesungguhnya. Penyebabnya, karena dipengaruhi sejumlah soal psikologis terkait emosionalitas seperti perasaan suka atau tidak suka, senang, sedih atau marah. Lalu, lahirlah pendapat atau informasi bias, seperti memberikan bobot pandangan positif atau negatif pada fakta tertentu berdasarkan apa yang disukai atau sebaliknya.

Itulah yang menjadi latar kondisi sosial yang mendorong terjadinya atau lahirnya suatu perbuatan yang kemudian dilakukan oleh pihak konspirator, yang disebut sebagai teori konspirasi. Sasaranya adalah kelompok individu atau institusi lainnya, dengan tujuan untuk mendeskreditkan, memojokkan atau mejatuhkan melalui penyebaran berita dan pengetahuan tertentu. Lalu,ketika publik kebanyakan menjadi bingung maka dengan mudah dibuat tak berdaya sebagai obyek manipulasi dan mis-informasi (The Guardian, 28 Maret 2017).

Secara konseptual, penjelasan lainnya yang mencoba menjelaskan teori konspirasi, adalah pandangan yang merujuk pada pemikiran Descartes tentang skeptisime. Sejak tiga abad yang lalu, filsuf Jermn modern tersebut melalui bukunya The Principles of Philosophy (1644) menulis: bahwa jika Anda berkeinginan untuk mengetahui kebenaran, maka anda harus memulai dari sikap skeptis -- tidak boleh percaya pada suatu fenomena sampai Anda menemukan bukti kebenarannya.

Pendapat Descartes tersebut segera menjadi rujukan, dan makin diperjelas dalam pemahaman terkait perbedaan antara sikap skeptis dan berpikir konspiratif. Di satu sisi bersikap skeptis merujuk pada kecurigaan yang diiringi dengan kemauan untuk memperbarui opini ketika mengamati bukti baru yang bertentangan dengan pra-anggapan sebelumnya. Skeptisisme adalah sikap penting dalam usaha untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, karena membantu ilmuwan untuk membedakan premis yang keliru dengan yang lebih mendekati kebenaran.

Intinya adalah bahwa berpikir konspiratif berakar pada suatu kecurigaan tentang suatu kejadian penting, sebagai hasil rekayasa sekelompok orang yang berkuasa. Itulah sebab, berpikir konspiratif sangat erat kaitannya juga dengan keadaan mis-informasi yang amat sulit dikoreksi, meskipun orang yang mempercayainya sudah diberikan diberikan bukti-bukti baru. Karena, ketika orang yang percaya teori konspirasi diberikan fakta-fakta yang bertentangan dengan keyakinannya, bukannya malah mengubah pendapatnya, ia akan semakin keras kepala dan menggunakan upaya koreksi tersebut sebagai pembenaran atas keyakinannya yang keliru. Dalam perspektif psikologi sosial, fenomena ini juga dikenal sebagai backfire effect.

Dalam merumuskan kesimpulan atas gejala yang diamati, seorang ilmuwan harus mempertimbangkan semua bukti yang seringkali bertolak belakang satu sama lain, sehingga seorang ilmuwan harus cermat dan berhati-hati dalam mengambil kesimpulan. Sebaliknya, penganut teori konspirasi hanya mau percaya pada informasi yang sesuai dengan keyakinannya saja, serta dengan sikap bias mengabaikan yang tidak sesuai dengan harapannya. Demikianlah, karakteristik khas penganut teori konspirasi: memiliki kebiasaan memilih-milih informasi (cherry-picking), lalu mengolahnya menjadi suatu skenario peristiwa konspiratif.

Namun demikian, bukan berarti teori konspirasi tidak memiliki kebenaran sama sekali. Sebab terbuka kemungkinan kebenaran dari teori konspirasi jika dikaitkan perilaku kekuasaan. Sebagaimana dikatakan Popper bahwa konspirasi itu sendiri merupakan suatu kenyataan yang muncul dari sekelompok individu yang berusaha membentuk fenomena sosial. Selain itu, bukti kebenaran fakta konspirasi yang terjadi juga mungkin baru terkuak di masa depan, jika belum dapat terkuak di masa kini.

Di Balik Covid-19
Serangan pandemic Covid-19 memberikan ruang yang sempurna bagi berkecambahnya teori konspirasi. Ketika masyarakat dunia menghadapi kepanikan dan kekacauan sosial yang mencekam di tengah wabah, terjadi pula situasi buruk efek pandemic berupa ekonomi yang ambruk, isolasi sosial, dan kebijakan pemerintah untuk melakukan pembatasan sosial. Dampak Covid-19 itu lalu mmenimbulkan psikolgis kecemasan, perasaan stres yang ekstrem, dan ketidakberdayaan publik.; hal itu selanjutnya menjadi ruang kondusif bagi tumbuhnya kepercayaan, perhatian dan daya tarik terhadap teori konspirasi.

Salah satu polemik yang berkembang terkait proyeksi teori konspirasi di tengah situasi wabah Covid-19 adalah sorotan atas apa yang disebut sebagai skenario “elit global”. Perdebatan yang muncul secara krusial atas merebaknya wabah tersebut, terarah pada aspek politik dan ekonomi sebagai berikut: Pertama, konteks politik dikaitkan dengan perseteruan antara Negara dan pemimpin dunia khususnya Negara-negara adidaya; Kedua, ada pun konteks ekonomi namun dinilai saling terkait dengan konteks politik diarahkan pada soal persaingan ekonomi antar Negara industri besar serta ambisi kepentingan pelaku bisnis koorpasi internasional dalam menguasai masa depan.* (Bersambung ….)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved