Tau Manusia Bugis
Buku 'Tau, Manusia Bugis': 5 Kategori Sanro atau Dukun yang Dikenal Orang Bugis
Jenis-jenis penyakit tosunra antara lain adalah: attikkengeng, sai, dan larisumangek. Attikkengeng adalah salah satu jenis penyakit tosunra.
Ciri-ciri penyakit:
(a) Penderita penyakit larisumangek senantiasa lesu, mati semangat;
(b) Pandangan mata para penderita tampak layu, seolah-olah menera-wang jauh; dan
(c) Keadaan penderita senantiasa tampak ketakutan, kadangkala denyutan nadinya berubah menjadi sangat kencang atau dadanya bergemuruh.
Timbulnya penyakit larisumangek ditanggapi oleh orang Bugis sebagai akibat rasa kaget, ngeri dan takut, hal mana didorong oleh heberapa faktor penyebab, yaitu:
(a) Si penderita mengalami peristiwa adongkoreng (kemasukan; kerasukan; kesurupan);
(b) Ampa-ampareng, terkena teguran oleh penunggu temput-tempat; ataupun benda-benda sakral;
(c) Gessa-gessang (tersentuh) oleh roh halus; dan
(d) Cuwek-cuwereng (dibayang-bayangi) oleh roh gentayangan.
Penyakit ini termasuk penyakit yang cukup merisaukan anggota masyarakat utamanya anggota kerabat dari seorang penderita, sebab kalau tidak diperoleh ohat yang manjur maka si penderita, itu bukan hanya dapat mengalami sakit ingatan, melainkan seringkali nyawanya tidak tertolong.
Sehuhungan dengan itu, masyarakat biasanya memintakan pertolongan pada dukun yang dianggap manjur dan berkemampuan cukup tinggi.
Bahkan kalau dianggap perlu, dukun itu akan dicari sampai ke daerah lain.
Ramuan tradisional digunakan oleh dukun untuk mengohati dan menyembuhkan penyakit larisumangek di daerah Bugis.
Salah satu resep yang tetap dipelihara dan diterapkan oleh anggota masyarakat tersebut, terdiri atas ramuan berupa: urat pohon kemiri dicampur dengan kencur, kemudian dilumat dan seterusnya diporaskan ke bagian tubuh si penderita.
Usaha menghindari penyakit larisumangek:
(a) memperhatikan petunjuk tradisional perihal waktu yang dianggap baik dan buruk untuk melakukan suatu pekerjaan/perjalanan, agar tidak mendapat gangguan roh halus;
(b) memperhatikan syarat ideal dari rumah yang ditempati;
(c) memperhatikan petunjuk tentang hari-hari naas;
(d) memperhatikan pantangan tentang tanah perumahan; dan
(e) memperhatikan tata cara mempersiapkan bahan ramuan- ramuan.
Umumnya pengobat tradisional bukanlah tenaga medis yang berpendidikan formal di bidang pengobatan, melainkan adalah anggota masyarakat biasa yang mampu mengembangkan bakat dan keterampilannya dalam bidang pengobatan melalui cara-cara tradisional.
Orang Bugis menyebut pengobat tradisional sebagai sanro (dukun).
Istilah sanro (dukun) pada hakekatnya adalah suatu simbol yang berlaku secara umum hagi setiap individu yang berfungsi memberikan pertolongan kepada sesama manusia berkenan dengan upaya penyembuhan sesuatu jenis penyakit.
Sehubungan dengan itu setiap sanro mempunyai pengetahuan dan kemampuan mengobati, bahkan mengupayakan penyembuhan terhadap sebagian besar jenis-jenis penyakit yang timbul dalam kehidupan ummat manusia, namun demikian setiap sanro tetap mempunyai keahlian tersendiri sesuai dengan jenis penyakit tertentu yang ditekuninya.
Demikianlah masyarakat Bugis di pedesaan, mengenal beberapa kategori sanro sebagai berikut:
(a) Sanro paddette lolo (dukun pemotong ari-ari);
(b) Sanro pabbura-bura (dukun pengobat);
(c) Sanro pajappi (dukun mantera);
(d) Sanro topolo (dukun patah); dan
(e) Sanro pattirotiro (dukun ramal).
Bercokolnya suatu penyakit pada badan kasar seseorang, bukan saja diakibatkan oleh gangguan dari kekuatan sakti, melainkan juga sering kali disebabkan oleh perbuatan banapati yang menghuni tubuh kasarnya.
Banapati itu dapat marah dan mendatangkan penyakit yang disebut lasa toriolota.
Oleh sebab itu orang Bugis amat takut nacalla banapati yaitu gangguan atau termakan kutukan torioloe.
Mereka yang terlanjur kena penyakit toriolota, biasanya melakukan nazar yang dalam bahasa Bugis disebut “tinjak“.
Pelepasan tinjak (malleppek tinjak) ini biasanya dilakukan pada suatu tempat keramat dengan mempersembahkan kurban berupa ayam, kambing atau kerbau dan segala kelengkapannya.
Kematian terbesar orang Bugis di masa lampau disebabkan oleh karena penyakit-penyakit: nanre sai (serangan penyakit menular), peddi babua (sakit perut), cika (muntah berak), dan sagala (cacar) yang dipercaya penyebabnya berkaitan dengan kemarahan dewata.
Secara tradisional masyarakat Bugis telah mempunyai pengetahuan tentang peyebab dan cara penyembuhan penyakit-penyakit tersebut di atas.
Cara-cara pengobatan berbagai penyakit secara tradisional ada pula ditulis dalam lontarak yang disebut lontarak pabbura atau lontarak pabbaru.
Cara-cara pengobatan dan menanggulangi penyakit tersebut biasanya dilakukan oleh seorang dukun kampung yang disebut sanro.
Berbagai julukan diberikan kepada dukun tersebut, antara lain sanro sagala untuk spesialisasi penyakit cacar, sanro wanua untuk dukun yang bertugas dalam upacara mengusir penyakit sekampung.
Sanro-sanro ini bertindak mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan upacara-upacara tolak bala.
Umumnya bila ada kematian, diadakan baca doa bersama di rumah orang yang kematian tersebut.
Doa tersebut dilakukan sesuai kehendak keluarga si anumerta.
Ada kalanya dilakukan sebelum mayat dikuburkan, dan ada juga setelah dilaksanakan penguburannya.
Malahan ada juga yang baru dilakukan setelah berselang beberapa hari atau beberapa bulan, disesuaikan kesempatan dan kemampuan keluarga yang ditinggalkan. Tentang cara para arwah hidup di akhirat biasanya dikatakan orang "tidak tahu‟.
Keadaan di sana disangka lebih baik, tetapi pada umumnya sama.
Tetapi bagaimana pun juga, orang Bugis percaya akan kekekalan jiwa pribadi.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/buku-tau-manusia-bugis-1-2252020.jpg)