Tau Manusia Bugis
Buku 'Tau, Manusia Bugis': 5 Kategori Sanro atau Dukun yang Dikenal Orang Bugis
Jenis-jenis penyakit tosunra antara lain adalah: attikkengeng, sai, dan larisumangek. Attikkengeng adalah salah satu jenis penyakit tosunra.
Wabah penyakit (sai) sewaktu-waktu dapat menyerang penduduk desa, akan tetapi sampai sekarang belum ada informasi ataupun kejelasan mengenai sebab musabah terjadinya penyakit tersebut.
Sehubungan dengan itu, anggota masyarakat terutama mereka yang berusia lanjut mempunyai anggapan, bahwa penyakit sai hanya timbul dalam suatu lingkungan tertentu yang kebanyakan warganya tidak mengindahkan lagi norma-norma sosial, tatakrama dan aturan-aturan adat.
Sejauh mana kebenaran anggapan ini masih perlu diteliti secara cermat.
Ciri utama dari penyakit ini, ialah apabila dalam desa timbul jenis penyakit yang meminta banyak korban, atau banyak warga desa yang meninggal dunia akibat penyakit yang sedang berjangkit dalam suatu kurun waktu.
Begitu berat dan fatalnya akibat yang dapat timbul akibat sai itu, sehingga penduduk setempat seringkali mengucapkan sebuah sumpah (mattanro) dengan menyehut nama sai.
Misalnya, nanreka sai narekko mabbelleak (biarlah aku dilalap penyakit menular, sekiranya aku berdusta).
Dukun melakukan pertolongan kepada para penderita dengan cara dan obat-obatan tertentu.
Cara penyembuhan yang biasanya dilakukan oleh para dukun terhadap penyakit sai, ialah dengan menggunakan ramuan tradisional dengan bahan baku terdiri atas alinge (salah satu jenis tumbuhan yang mirip dengan kunyit, hanya bentuk lebih besar).
Bahan ini tidak boleh diambil di sembarang tempat, tetapi harus berupa alinge yang tumbuh di suatu persimpangan jalan.
Setelah bahan disiapkan, maka pada waktu tepat tengah malam bahan tersebut dimasak, kemudian diminumkan kepada warga penduduk yang sedang menderita penyakit sai.
Cara pengobatan ini dilakukan sampai si penderita sembuh kembali.
Sesuai dengan anggapan masyarakat tentang sebab-musabah timbulnya penyakit sai yang bersumber dari dewata, maka usaha menghindarinyapun dilakukan dengan cara berserah diri, sekaligus memohon ampunan dari para dewa atas kesalahan yang telah dilakukan.
Dalam hubungan itu, warga desa biasanya mengadakan berbagai upacara tolak bala, antara lain mempersemhahkan sesajian berupa makanan tradisional.
Larisumangek.
Penamaan penyakit ini sesuai dengan keadaan para penderita yang seolah-olah kehilangan sukma (daya hidup).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/buku-tau-manusia-bugis-1-2252020.jpg)