Tau Manusia Bugis
Buku 'Tau, Manusia Bugis': Cara Mengobati dan Menghindari Doti (Black Magic)
Secara garis besar orang Bugis membagi jenis sakit itu dalam dua kategori. Pertama, penyakit panas yang disebut lasa atau doko pella.
TRIBUN-TIMUR.COM - Secara garis besar orang Bugis membagi jenis sakit itu dalam dua kategori.
Pertama, penyakit panas yang disebut lasa atau doko pella.
Kedua, sakit dingin dan dikenal sebagai lasa cekkek.
Baca tulisan sebelumnya: Buku 'Tau, Manusia Bugis': Jenis Penyakit dan Penyebab Sakit (Lasa atau Doko) Orang Bugis
Lasa pella mencakup seluruh jenis penyakit yang dipandang mempunyai muatan panas, kendati pun unsur panas tersebut hanya mengendap dalam diri seseorang.
Sebaliknya lasa cekkek mencakup seluruh jenis penyakit yang dianggap mempunyai kandungan dingin, baik unsur dingin tersebut dapat terasa melalui rabaan di permukaan kulit maupun hanya terselubung dan mengendap dalam diri seseorang penderita.
Sesuai dengan pengelompokkan penyakit menurut kategori panas dan dingin tersebut, pengetahuan orang Bugis yang bertalian dengan sistem pengobatan tradisional pun terbagi ke dalam dua kelompok dasar.
Pertama, pengobatan terhadap gejala panas, disebut urang pella; dan kedua pengobatan yang bertalian dengan gejala dingin, disebut urang cekkek.
Konsep ini, seperti dalam kenyataannya telah mendorong pula tumbuhnya aneka ragam cara dan praktek pengobatan, baik melalui sistem ramuan maupun mantera-mantera disamping adanya jenis upaya lainnya seperti upacara tolabala, meditasi, penggunaan sistem penangkal dan azimat.
Upaya pengobatan tersebut biasanya dilakukan oleh tokoh setempat yang dikenal sebagai sanro (medicine man).
Ada tiga jenis penyakit utama menurut konsep orang Bugis, masing-masing disebut: lasa watakala (gangguan kesehatan pada organismus fisik) lasa paragi-agi (gangguan fisik maupun psikhis akibat praktek magic) serta lasa tosunra (gangguan makhluk halus).
Lasa watakkale atau penyakit badan merupakan salah satu jenis penyakit yang secara harfiah diartikan penyakit fisik, namun secara konsepsional dapat diartikan sebagai suatu gangguan kesehatan pada sosok tubuh manusia, akibat terjadinya ketidak seimbangan organismus fisik.
Kondisi tubuh seperti ini biasanya timbul, karena adanya organ-organ tubuh yang tidak berfungsi secara wajar atau karena adanya gangguan unsur-unsur alam, seperti suhu udara peredaran musim dan lain sebagainya.
Lasa paragi-agi. Penyakit ini dipandang sebagai penyakit buatan manusia dengan memanfaatkan kekuatan gaib maupun makhluk-makhluk halus yang diserap melalui praktek magis.
Penyakit jenis ini terbagi-bagi pula menjadi beberapa golongan menurut jenisnya, antara lain: doti, pecca, dan lasa paddisengeng.
Ciri-ciri penyakit doti, antara lain dapat dirasakan oleh para penderita di mana mereka seolah-olah terkurung di atas bara api.
Demikian panasnya, sehingga kebanyakan penderita sakit doti tidak kerasan mengenakan pakaian.
Doti seperti ini disebut doti api.
Jenis doti lainnya yang sangat ditakuti oleh anggota masyarakat ialah doti ulu, yaitu doti yang sasarannya khusus mengenai bagian kepala korbannya.
Ciri-ciri doti ulu terutama dapat dilihat pada batok kepala seseorang penderita korban doti sekonyong-konyong menjadi lembek.
Melembeknya batok kepala, disusul pula dengan gugurnya ramhut yang tumbuh di kepala si penderita, bahkan yang bersangkutan dapat meninggal dunia atau menjadi cacat seumur hidup, misalnya kepalanya menjadi lonjong, miring dan sebagainya.
Penyebab penyakit, ialah timbulnya serangan hawa panas pada organ tubuh manusia terutama di bagian lambung atau kepala.
Serangan hawa panas tersebut dikendalikan oleh kekuatan sakti yang disedot melalui praktek magis (black magic).
Terdapat tiga kategori cara khusus untuk pengobatan atau memusnahkan pengaruh penyakit doti.
Pertama, pengobatan fisik untuk memusnahkan kekuatan doti, sekaligus membebaskan penderita dari kungkungan hawa panas.
Kedua menjinakkan kekuatan doti, sehingga membebaskan si penderita dari tekanan pengaruhnya.
Ketiga, ialah cara mengirimkan kembali, sekaligus memberikan serangan balik pada si pemilik doti.
Cara pengobatan kedua dan ketiga tersebut dilakukan atas dukungan mantera- mantera dan praktek magis atau tepatnya dapat disebut “white magic”.
Selain pengobatan dengan menggunakan ilmu gaib dan mantera-mantera, digunakan pula ramuan tradisional yang biasa digunakan untuk menyembuhkan doti, antara lain berupa resep terbuat dari bahan: jahe, kayu manis, ketumbar, daun kencur, araso (sejenis tanaman tebu tetapi rasanya hambar dan dapat terapung di atas permukaan air).
Ramuan tersebut kemudian dijerang sampai mendidih. Sesudah itu ramuan didiamkan beberapa saat kemudian diberi minum pada si penderira. Hal ini diulang-ulang pagi dan sore.
Cara menghindari penyakit doti, antara lain:
(a) Membekali diri dengan alat penangkal doti, baik berupa azimat maupun mantera-mantera;
(b) Mengusahakan agar tidak tidur sebelum lewat tengah malam karena menurut anggapan masyarakat, serangan doti hanya bisa mencapai sasaran atau mangsanya apabila yang bersangkutan berada dalam keadaan tidak sadar, termasuk waktu tidur; dan
(c) Menolak minuman ataupun makanan yang disuguhkan seseorang manakala diduga suguhan tersebut mengandung doti.
Sama halnya dengan doti, penyakit paccak pun disebabkan oleh akibat paragi-agi yang dilakukan oleh sesama manusia dengan menggunakan ilmu gaib dan praktek magis.
Dalam hal ini paccak biasanya diletakkan di atas tanah, kadang kala di tanam dalam sebuah lubang khusus kemudian ditimbun bagian atasnya dengan tanah.
Maksudnya, supaya orang yang dijadikan sasaran atau mangsa dapat menginjak atau melangkahi paccak tersebut.
Apabila orang yang diincar itu ternyata menginjak atau melangkahi paccak yang sengaja diletakkan oleh pemiliknya di atas tanah, maka yang bersangkutan segera merasakan akibat atau pengaruhnya.
Dalam pada itu, kadangkala orang yang terkena paccak secara langsung merasakan linu pada bagian lututnya.
Namun bagi mereka yang mempunyai daya tahan tubuh cukup kuat, pengaruh paccak dapat dirasakan setelah melewati tenggang waktu tertentu.
Penyakit paccak dapat dibedakan dengan penyakit lain terutama dengan memperhatikan ciri-cirinya, yaitu:
(a) Si penderita yang terkena paccak selalu mengalami gangguan organisme pada bagian lututnya (bukan ada bagian/anggota tubuh lainnya seperti siku maupun bagian pergelang-an tangan dan kaki);
(b) Si penderita merasakan linu dan nyeri yang menyentak-nyentak pada anggota tubuh yang sakit;
(c) Perasaan linu dan nyeri tersebut kemudian disusul dengan adanya pembengkakan, bahkan pada akhirnya bagian lutut yang terkena paccak akan membusuk sehingga otot dan tulang, serta pembuluh darah di bagian tubuh yang sakit itu tidak berfungsi sama sekali; dan
(d) Jikalau penderita tidak segera mendapatkan pertolongan atau obat pemusnah yang manjur, maka yang bersangkutan akan menjadi cacat seumur hidup.
Gejala penyakit seperti ini dapat pula terjadi pada binatang terutama kuda, namun berbeda nama penyakitnya.
Paccak pada ternak disebut panrak.
Sama pula halnya dengan penyakit doti, anggota masyarakat Bugis menganggap serius penyakit paccak.
Penyakit tersebut termasuk sulit disembuhkan, kecuali bagi pengobat tradisional yang memang sudah ahli dan banyak pengalaman di bidang ilmu gaib.
Sehubungan dengan itu, seorang penderita penyakit paccak biasanya meminta pertolongan pada tokoh pengobat yang tersohor sebagai dukun sakti.
Apabila upaya pengobatan yang dilakukan oleh dukun setempat tidak berhasil memusnahkan kekuatan paccak, maka keluarga si penderita mencari dukun di daerah lain.
Untuk menyembuhkan dan mengobati penyakit paccak para dukun di daerah Sulawesi Selatan biasanya menggunakan, cara pengobatan fisik maupun non fisik.
Pengobatan fisik dilakukan dengan menerapkan semacam ramuan tradisional sedangkan pengobatan non fisik dilakukan atas dukungan ilmu-ilma mantera.
Ramuan tradisional yang biasa digunakan untuk mengobati sakit paccak, antara lain berupa ramuan yang bahan bakunya terdiri atas: daun takku Jawa (sejenis tanaman, mirip kunyit namun bentuknya lebih besar) dicampur dengan jahe secukupnya.
Setelah siap, ramuan tersebut kemudian ditumbuk, seterusnya dibalutkan pada bagian kaki yang terkena paccak.
Selain menggunakan resep tersebut maka para dukun biasanya memberikan pula pengobatan berupa air yang diberi mantera, kemudian diminumkan kepada si penderita, selebihnya dipercikkan pada bagian kaki yang sakit.
Karena paccak termasuk jenis penyakit yang sulit diduga kapan datangnya, di mana letaknya sehingga cara menghindarkanya lebih banyak diupayakan melalui sistem penangkal diri.
Dalam hal ini sistem penangkal diri terdiri atas:
(a) Jenis azimat yang bertujuan meningkatkan kekebalan dan daya tahan tubuh terhadap serangan ilmu gaib dan kekuatan sakti; dan
(b) Jenis mantera-mantera yang bertujuan menjauhkan segala bentuk musibah.
Obat-obatan jenis penangkal, khusus berupa azimat biasa diperoleh dari dukun-dukun kampung, dapat pula merupakan warisan peninggalan orang tua.
Sementara itu penangkal yang berupa mantera-mantera umumnya diperoleh dari orang tua-tua di lingkungan keluarga masing-masing.(bersambung)