Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

OPINI PAKAR

Pembangkangan Sosial Covid-19

Ditulis, Ridwan Amiruddin, Ketum Persakmi Indonesia sekaligus Ketua PAEI Sulawesi Selatan dan Guru Besar FKM Universitas Hasanuddin.

Editor: Jumadi Mappanganro
FB Ridwan Amiruddin
Prof Dr Ridwan Amiruddin SKM MKes MSc PH (Ketum PERSAKMI Indonesia) 

Oleh: Ridwan Amiruddin
Ketum Persakmi Indonesia - Ketua PAEI Sulawesi Selatan - Guru Besar FKM Universitas Hasanuddin

Berdiam diri selama dua bulan berjalan di rumah sudah mulai menimbulkan berbagai dampak samping.

Di antaranya: effect cabin, stress ringan hingga berat, kejenuhan, kesendirian, kejengkelan hingga rasa bosan yang berlebihan.

Keadaan tersebut bila tidak dikelola dengan baik oleh masyarakat maupun pemerintah dapat berdampak buruk pada lahirnya class action berupa pembangkangan sosial covid-19.

Keadaan ini akan bertambah buruk bila penumpang gelap mulai memanfaatkan celah tersebut untuk kepentingan politik jangka pendek atau oleh kelompok kelompok ekstrem.

Pakar Epidemiolog Unhas Ingatkan Potensi Bahaya Salat Id Berjamaah di Masjid-Lapangan di Makassar

Sebagai epicentrum Covid-19, Kota Makassar dengan potensi sosial dan ekonominya yang relatif baik sejogyanya mampu mengelola sumber daya tersebut untuk mengunci Covid-19.

Penguncian Cocid-19 dapat dikontrol dengan baik pada level rumah sakit sebagai sumber infeksi, jalur transportasi sebagai pelintasan carrier covid-19 dan personal hygiene sesuai protokol kesehatan WHO yang ketat.

Intervensi tersebut secara umum disebut Intervensi Non Pharmacy (NPI) atau Intervensi Kesehatan Masyarakat pada Darurat Kesehatan Masyarakat.

Pilihan intervensi tersebut sudah terbukti bermakna melandaikan kurva pandemi Covid-19 di berbagai negara.

Untuk Indonesia, dimodifikasi dalam bentuk PSBB.

Pemilihan intervensi PSBB setengah hati memunculkan kekecewaan yang dalam bagi petugas kesehatan yang telah mempertaruhkan jiwa raganya, baik yang di lapangan sebagai petugas contact tracing maupun yang di ruang ruang perawatan rumah sakit.

Hingga rasa frustrasi mereka diekspresikan dalam berbagai media sodial misalnya *Indonesia terserah".

Hal ini adalah miniatur pembangkangan sosial terhadap Covid-19 karena pilihan kebijakan yang terkesan 'lemah' tidak punya power.

Relaksasi berbagai kebijakan: pembukaan izin penerbangan, pembukaan mal, konser, ied bersama adalah pemicu dari keadaan tersebut.

Jangan Lewatkan Dialog Virtual Seri 3 Forum Dosen, Mantan Menteri Narasumber Utama

Tentu alasan relaksasi itu karena untuk menghidupi kelompok marginal atau hanya sebuah kamuflase kapitalis.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved