Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

88 Nelayan Bugis Berlayar 10 Hari dari Papua dan Disambut Bak Pahlawan di Barru

Kelompok pelaut Bugis ini tidak tiba di satu dermaga. Dua kapal berlabuh di dermaga Puteanging dan disambut bupati.

Tayang:
Penulis: Darullah | Editor: Thamzil Thahir
dok_tribun_timur
INFOGRAFIK Perjalanan 46 Nelayan Tanete, Barru di puncak Masa Corona, Virus. 

Seperti nenek moyang mereka beraba-abad lalu, mereka meninggalkan kampung sebelum angin barat berhembus ke timur sekitar Oktober - November.

Kapal nelayan berlayar di perairan Tanjung Bayang, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (6/1/2020). Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi sekitar 1,25 - 4,0 meter dan angin kencang berpeluang terjadi di Perairan Makassar bagian barat dan selatan hingga beberapa hari ke depan. TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR
Kapal nelayan berlayar di perairan Tanjung Bayang, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (6/1/2020). Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi sekitar 1,25 - 4,0 meter dan angin kencang berpeluang terjadi di Perairan Makassar bagian barat dan selatan hingga beberapa hari ke depan. TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR (Sanovra/tribun-timur.com)

Lalu awal Ramadan, biasanya bertepatan dengan angin timur berhembus ke barat, mereka kembali berlayar ke kampung halaman.

Mereka hidup di atas kapal dan kadang ke daratan di pulau-pulau hub, untuk menjual hasil tangkapan mereka.

Dalam sambutan berbahasa Bugis campur Indonesia, Bupati menyebut para nelayan ini sehat karena bekerja di bawah sinar matahari dan mengkonsumsi ikan segara.

 “Alhamdulillah, selamat datang kembali di kampung halaman. Terima kasih telah kooperatif sebab mestinya tadi malam sudah merapat namun tetap menunggu himbauan, Alhamdulillah” ujar bupati Barru, dalam potongan video yang viral di media sosial dan media lokal.

Sebagai langkah antisipasi dan sesuai protokol global pandemi COVID-19 mereka harus melalui pengecekan medik. 

“Kita tidak tahu apa yang kita bawa di tubuh, apalagi ada orang tua, ibu, nenek kita yang belum tentu memiliki ketahanan seperti yang kita miliki,” ujar bupati melalui portabel microphone.

Saat naik ke daratan, tim medis memeriksa suhu tubuh mereka dengan thermometer portabel, 

Rerata suhu tubuh normal, antara 36.,3 hingga 36,7 derajat.

Saat masih di kabin kapal, mereka mendapat panduan dari tim Gugas Covid-19 level kabupaten.

Setalah disemprot cairan disinfektan, tim medis lain melalukan rapid test, pengambilan sampel darah, lalu membagikan masker.

Mereka diminta untuk isolasi mandiri di rumah, masing-masing.

untuk menjauhi keramaian, melakukan isolasi mandiri di rumah, dan ke depan selama 14 hari agar tidak kemana-mana cukup dirumah saja.

“Akko Lettu ni matu Pak, Buka semua baju, rendam, dan mandi lalu bisa ketemu keluarga” ujar seorang petugas.

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved