Hari Tari Internasional
Mengenal Sosok Andi Siti Nurhani Sapada, Pencipta Berbagai Tarian Tradisional khas Sulsel
Andi Siti Nurhani Sapada adalah pencipta berbagai tarian khas di Sulawesi Selatan, mulai dari Pakarena hingga Tari 4 Etnis
Penulis: Desi Triana Aswan | Editor: Anita Kusuma Wardana
Sempat berkuliah selama dua tahun di Fakultas Sastra dan Seni IKIP Makassar (1971-1973), pada jurusan bahasa Inggris.
Andi Siti Nurhani Sapada menikah dengan Andi Sapada Mappangile, mantan Bupati Sidrap, 1960, di karuniai delapan anak.
Tahun 1949, ia bergabung dalam Orkes Daerah Baji Minasa pimpinan Bora Daeng Irate, pencipta lagu Angin Mammiri.
Ia jugalah pelantun pertama lagu tersebut.
Pada tahun 1950 terjadi peristiwa yang mendorongnya kian memacu semangatnya terus menekuni seni tari sampai.
Peristiwa itu bermula ketika Presiden Soekarno berkunjung di kantor Gubernur di Makassar.
Pada suatu kesempatan, Presiden Soekarno tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya dan bertanya,
"Adakah tari daerah yang bisa saya nikmati?".
Mendengar pertanyaan itu, dengan cepat dan tanpa persiapan sama sekali ia meminjam pakaian adat Mandar, lalu menyuguhkan tari Pattuddu yang berasal dari daerah Mandar (kini Provinsi Sulawesi Barat).
Presiden Soekarno terkesan dan mengharapkan agar kiprahnya diteruskan dalam membina dan mengembangkan tari-tarian Sulawesi Selatan.
Sejak tahun 1950 hingga tahun 1965, setiap tahun ia selalu tampil di Istana Negara, memimpin tim kesenian/tari dari Sulawesi Selatan pada setiap rangkaian acara peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Antara 1952 sampai 1985, ia mengolah, membina, dan menciptakan seni tari Sulawesi Selatan, di antaranya Pakarena, Pattuddu, Padendang, Bosara, Pabbekkenna Majjina, Pattennung, Dendang-Dendang, Pasuloi, Angina Mamiri, dan Tomassenga.
Adapun fragmen tari yang diciptakannya antara lain Sultan Hasanuddin, Pajjonga, Wetadampali Masala Olie, Saleppang Sampu dan Anak Rara.
Ia juga menggarap tari Pakduppa (tari menjemput tamu) yang dimainkan 300-an orang tatkala pembukaan Pekan Olahraga Mahasiswa tahun 1968 di Makassar.
Tahun 1962, ia mendirikan Institut Kesenian Sulawesi (IKS) untuk menawarkan pendidikan seni kepada putra-putri Indonesia agar lebih mengenal seni tari empat kelompok etnis di Sulawesi Selatan (Makassar, Bugis, Toraja, Mandar) serta mengatur dan menggelar beragam pertunjukan, khususnya tari dan musik daerah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/sampul-buku-hj-andi-siti-nurhani-sapada-soedarsono-nurwahidah-biografi2.jpg)