Catatan Barsihannor
Puasa, Antara Esensi dan Aksesori
Ditulis Barsihannor, dosen Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar
Jauh sebelum wabah Covid-19, fenomena konsumtif masyarakat pada bulan-bulan Ramadhan sebelumnya sangat tinggi.
Sebagian masyarakat belum mampu memaknai puasa secara esensial.
Itu pula kenapa Nabi pernah memberi peringatan kepada umat Islam dengan sabdanya: Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahala apa-apa kecuali lapar dan dahaga.
Manusia yang tidak mampu mengontrol hawa nafsu dianalogikan seperti binatang, bahkan lebih jelek dari binatang (Q.S. al-A’raf: 179).
Binatang seperti harimau sekalipun, jika sudah kenyang, tidak akan mengenyangkan perutnya lagi, meski makanan atau seekor tikus berkeliaran di depan hidungnya.
Sebaliknya manusia, terkadang meski sudah kenyang, ia tidak pernah puas bahkan selalu haus, misalnya terhadap kekayaan, jabatan atau kedudukan.
Demikian pula begitu banyak manusia yang ingin berpuas-puas dengan glamoritas duniawi.
Baginya hidup adalah kini dan kekinian, bukan persoalan kehidupan setelah kematian.
Orang seperti ini meskipun melaksanakan puasa, dia belum mampu menangkap makna esensi dari puasa itu sendiri.
Dia hanya menikmati aksesori kultural dan simbol-simbol agama tanpa mendapatkan esensi agama itu sendiri.
Manusia bahkan menjadikan benda, lembaga atau institusi sebagai ‘tuhan-tuhan baru’ yang menjadi sandaran hidupnya dan taruhan terakhir bagi masa depannya.
Maka tidak heran banyak manusia yang rela mati demi materi yang dicintainya atau tokoh yang difigurkannya atau demi politik yang dianutnya.
Juga rela berperang menumpahkan darah demi etnik dan sukunya.
Karena itu, puasa pada hakikatnya mengajak manusia membebaskan diri dari tirani hawa nafsu yang selama ini boleh jadi menjadi ‘agama baru’ di dalam kehidupannya. Selamat berpuasa! (*)
Baca juga catatan Barsihannor yang lain:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/barsihannor_uin-alauddin.jpg)