Catatan Barsihannor
Puasa, Antara Esensi dan Aksesori
Ditulis Barsihannor, dosen Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar
Oleh: Barsihannor
(Dosen Pemikiran Islam UIN Alauddin Makassar)
MENJELANG Ramadhan, banyak pertanyaan juga pernyataan dari masyarakat masuk ke WA saya.
Ada beberapa pertanyaan yang terkait dengan kualitas ibadah Ramadhan saat pandemi Covid-19.
Juga pernyataan kegalauan dan kesedihan karena adanya pembatasan atau larangan menggunakan mesjid sebagai tempat ibadah (tarawih, i’tikaf, buka puasa dan sejenisnya).
Bahkan terdapat beberapa narasi yang sangat provokatif dengan mempertanyakan kualifikasi MUI atau tokoh-tokoh agama yang turut mendukung kebijakan pemerintah terkait social/physical distancing.
Dari sejumlah pertanyaan dan pernyataan tersebut saya berkesimpulan bahwa sebagian masyarakat belum dapat memahami dengan baik mana esensi dan mana yang bersifat aksesoris dalam ibadah puasa di bulan Ramadhan.
Sudah menjadi kelaziman pada setiap datangnya bulan Ramadhan, aspek-aspek yang bersifat aksesoris inilah yang paling menonjol mewarnai dinamika ibadah Ramadhan.
Misalnya tarawih keliling, buka puasa bersama, sahur on the road, i’tikaf, nuzulul Quran, ceramah tarawih, pasar Ramadhan, idul fitri, dan lain-lain.
Padahal esensi utama Ramadhan itul adalah ‘pelaksanaan puasa’ yang dilakukan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, bukan elemen yang saya sebutkan di atas.
Akibat manusia lebih berorientasi kepada aksesoris yang bersifat simbolistik, maka manusia lupa akan esensinya.
Padahal ajaran inti (esensi) puasa adalah self controlling yaitu kemampuan pengendalian diri dalam setip lini kehidupan.
Puasa itu pada hakikatnya bukan tarawih, sahur on the road, bukan puasa bersama seperti yang saya sebutkan di atas, tapi sebuah proses pelatihan jiwa yang mencoba menghadirkan ”Yang Maha Hadir/The Omnipresent” dalam setiap napas kehidupan.
Dengan demikian, maka orang yang berpuasa akan mampu mengontrol hawa nafsu dalam dinamika kehidupannya.
• Bolehkah Makan Minum Saat Imsak dan Sahur Dalam Keadaan Junub? Ini Jawaban Prof Quraish Shihab
Imam al-Busyiri dalam bait syair Burdah-nya berkata; ”Nafsu itu seperti anak kecil yang manja. Jika engkau membiarkannya, maka ia akan terus bertambah manja. Sudah berapa banyak orang yang tewas, hanya karena tidak tahu bahwa di dalam lemak itu ada racun yang mematikan.”
Ramadhan sejatinya mendidik manusia untuk hidup sederhana dan mengendalikan hawa nafsunya, bukan memperbanyak pengeluaran finansial rumah tangga sebagai efek dari pemuasan hawa nafsu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/barsihannor_uin-alauddin.jpg)