Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Catatan Barsihannor

Paramedis, Kita, dan Kurikulum Kehidupan

Penulis: Barsihannor, Dosen Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar

Editor: Jumadi Mappanganro
Dokumen Dr Barsihannor
Dr Barsihannor, dosen pemikiran Islam UIN Alauddin Makassar 

Oleh: Barsihannor
(Dosen Pemikiran Islam UIN Alauddin Makassar)

WABAH virus Covid-19 yang telah menyebar ke hampir 200 negara dan menelan puluhan ribu nyawa memberikan begitu banyak pembelajaran bagi kita semua.

Covid-19 menjadi perbincangan hangat dari berbagai perspektif disiplin ilmu: agama, sosiologi, psikologi, kesehatan, hingga politik.

Covid-19 seakan menjadi sebuah kurikulum kehidupan yang tidak kita jumpai dalam pembelajaran formal.

Pagi ini saya membaca sebuah berita (tribun-timur.com, 9 April 2020) tentang dokter di Kabupaten Maros yang dinyatakan positif Corona dan mengakibatkan 50 paramedis lainnya harus diisolasi.

BREAKING NEWS: Dokter di RSUD Salewangang Maros Positif Corona, 50 Tenaga Medis Diisolasi

Saat membaca berita tersebut, saya tersentak. Ada rasa sedih, galau bercampur keprihatinan seraya membayangkan bagaimana jika paramedis tidak sanggup lagi berada di garda depan dan di benteng pertahanan?

Ingat bahwa suasana hati yang cemas, sedih atau panik menurunkan imunitas, saya pun berzikir dan mendoakan paramedis.

Lalu mencari konten menarik di youtube agar saya bisa terhibur.

Sembari saya ingat juga pesan Prof Hamdan MA (Rektor UIN Alauddin) dalam artikelnya berjudul Saya Percaya, tulisan yang memberikan penguatan keyakinan kepada kita bahwa semua pasti berlalu.

Dalam hal penanganan covid.19 ini, saya melihat paramedis memiliki fungsi/peran ganda. Disamping sebagai gerda terdepan bersama-sama masyarakat, paramedis juga menjadi benteng pertahanan terakhir.

Dua fungsi/peran sekaligus ini tentu amat berat dipikul jika tidak didukung dengan kebersamaan dan kesadaran semua lapisan dalam menghadapi covid.19.

Beberapa hari ini saya mencoba olahraga sederhana dengan berjalan kaki di sekitaran kompleks kami tinggal.

Sesuai dengan protocol covid.19, saya pun memakai masker. Saat berolah raga itu, terkadang masker saya lepas untuk merasakan perbedaan udara yang saya hirup.

Ternyata menghirup udara tanpa masker jauh lebih segar daripada menghirup udara dengan memakai masker.

Saya pun langsung teringat paramedis penangan covid yang maskernya terlihat berlapis-lapis. Saya membayangkan bagaimana mereka harus bernapas dalam masker seperti itu dalam kurun waktu yang relatif lama.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved