Update Corona Sulsel
Wakil Ketua Umum Kadin Harap Gubernur Sulsel Buka Akses Impor Ventilator dari Jepang
Dia menyebutkan, pekan lalu, kalangan pengusaha urunan membantu pemerintah Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, untuk mengimpor Corona rapid test kit .
Penulis: Alfian | Editor: Thamzil Thahir
“Amerika, negara-negara Eropa yang bulan lalu masih pandemi dari China, dua pekan terakhir, justru boleh dibilang jadi negara epidemi. Kasus positif dan jumlah pasien meninggalnya naik drastis,” ujarnya.
Dia menyebutkan, pekan lalu, kalangan pengusaha urunan membantu pemerintah Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, untuk mengimpor Corona rapid test kit .
• Pengusaha Makassar Impor Lagi 60 Ribu 2 Minute Rapid Test Covid-19 dari Belanda
• BREAKING NEWS: 1.300 Alat Rapid Test Corona Tiba di Makassar
• Apa Itu Ventilator? Berikut Penjelasan Dokter Ahli
Namun, belakangan dari hasil medik, terungkap perangkat uji cepat ini tak akurat. “Karena hanya ambil sampel darah, pasien dengan bukan gejala COVID, seperti brokhitis juga bisa terdeteksi,”
Menyitir informasi dari para ahli, dokter dan spesialis pernafasan, Erwin menyebutkan pola pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) dengan metode pengambilan sampel lendir di tenggorokan dan organ pernafasan hidung (SWAB), sejauh ini jauh lebih efektif.
“Nah, dengan meningkatkan angka pasien positif, dan terbatasnya ventilator di ICU, kami coba tawarkan bantuan, namun kami terkendala akses.”
Mengatasi keterbatasan ruang ICU di rumah sakit rujukan, Kadin juga berharap pemerintah daerah, untuk lebih banyak memgambil inisiatif membuka gedung publik, aula sekolah, kampus, untuk diubah sementara jadi ruang penanganan darurat.
Praktis cerdas pemerintah Korea dan Jepang, yang memberlakukan drive thru COVID tes, seperti beli ayam goreng di KFC atau Mc Donald,dimana warga tetap diatas mobil, diyakini bisa mengatasi penyebaran COVID.
Dia meyakini, partisipasi elemen publik, aparat, pengusaha, kelompok relawan dan kesadaran warga untuk memutus mata rantai penyebran virus mematikan ini, mulai menunjukkan hasil.
• IDI Makassar Bentuk Satgas Tanggap Covid-19
Sebelumnya, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Makassar Dr dr Siswanto Wahab Sp KK CK kepada Tribun, awal pekan ini, mengkonfirmasi kondisi ini.
“Rumah sakit rujukan kita terbatas, peralatan dan fasilitas medik dan dokter juga demikian, Namun penanganan ini bisa teratasi jika warga membatasi mobilitas sosial, dan tak panik jika menghadapi gejala sakit, demam, flu, batuk dengan langsung ke rumah sakit. Bantu kami dengan berdiam di rumah,” ujarnya.
Ini belum lagi jika menyoal ketersediaan alat peredam virus bagi pasien positif seperti alat medik polymerase chain reaction (PCR) dengan metode pengambilan lendir di tenggorokan atau organ pernafasan (SWAB), atau ventilator (alat bantu pernafasan).
“Dibanding dua pekan lalu, beberapa hari terakhir, metode penanganan medik relatif lebih rapi. Logistisk APD berangsur mulai datang dari pusat,” ujar salah dr Onasis Ande Sp.Rad, kepada Tribun, Kamis (2/4).
Kebijakan menjadikan semua rumah sakit ‘siaga’ Covid-19 di Sulsel, setidaknya bisa menambah optimisme, Sulsel bisa menghadapi ini.
Dia mengakui, ruang pengetesan atau penanganan khusus seperti metode PCR yang membutuhkan laboratorium Biosafety Level (BSL) atau ICU, juga terbatas.
Menurutnya, dibanding dua pekan lalu, penanangan medik kasus CoVID di Makassar, bisa mengobati keresahan tenaga medik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/usai-pertemuan-pihak-pssi_20161016_223729.jpg)