Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

OPINI

Bijak Menghadapi Covid-19

Ditulis Firzan Nainu, Tim Satgas Covid-19 Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin

Editor: Jumadi Mappanganro
Dokumen Firzan Nainu
Firzan Nainu 

Adapun remdesivir beraksi melalui penghambatan replikasi RNA virus.

Hasil tersebut diterbitkan pada tanggal 4 Februari 2020 di jurnal Cell Research dan telah mendorong berbagai penelitian lanjutan termasuk uji klinis klorokuin dan remdesivir di Amerika dan beberapa negara lainnya.

Pada masa pandemi seperti ini, kabar apapun akan sangat dinanti. Berita bahwa kedua obat di atas dapat digunakan sebagai antivirus melawan SARS-CoV-2/Covid-19 langsung tersebar di Indonesia.

Berbeda dengan remdesivir yang masih belum tersedia di pasaran, klorokuin telah ada sejak lama sebab merupakan obat anti-malaria yang banyak digunakan di Indonesia.

Sudah bisa ditebak, obat ini akhirnya menjadi buruan masyarakat. Namun, perlu diketahui bahwa klorokuin dimasukkan ke dalam kategori obat keras dan harus digunakan dengan resep dokter.

Efek sampingnya dari yang paling ringan (mual dan muntah) hingga yang paling berat (kehilangan pendengaran).

Bahkan, berita terakhir dari Amerika, seorang pria berusia 60 tahun meninggal setelah mengonsumsi sediaan mengandung senyawa obat ini tanpa resep dokter.

Dengan demikian perlu untuk disadari bahwa penggunaan obat yang tidak semestinya, tanpa menggunakan resep dokter dan tidak disertai dengan penjelasan dari apoteker sebagai ahli obat, akan sangat rentan berujung pada kesalahan yang sayangnya bisa saja berakibat fatal.

Masyarakat Mudah Terperdaya

Saat ini peta genom dan komponen-komponen penting yang dibutuhkan SARS-CoV-2 dalam menginfeksi sel manusia telah diketahui.

Tidak hanya itu, beragam hasil penelitian untuk menelusuri kandidat antivirus yang dapat digunakan dalam pengobatan Covid-19 pun telah marak dipublikasikan di berbagai media pre-prints dan jurnal internasional.

Sebagian besar data penelitian masih berupa data pengujian in silico dan in vitro atau masih berupa hipotesis yang belum terbukti secara klinis.

Kesemuanya tersedia secara daring dan dapat diakses gratis oleh siapapun.

Sayangnya, data-data tersebut langsung disebar di tengah masyarakat kita oleh pihak tak bertanggungjawab.

Masyarakat yang kini semakin panik melihat peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia, tidak jarang langsung percaya dan terperdaya membeli produk-produk yang sayangnya belum tentu berkhasiat.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved