Air dan Perubahan Iklim
Jika dirata-ratakan kebutuhan air penduduk Sulawesi Selatan (sekitar 100 liter setiap warga/hari) akan mencapai 800 juta liter per hari.
Untuk itu, diperlukan berbagai penelitian dan pengkajian tentang perubahan iklim dan dampaknya terhadap sektor kehidupan, disertasi dengan usaha terus menerus untuk meminimalisasi dampaknya. Usaha yang dapat dilakukan, antara lain: (1) menghemat penggunaan listrik, (2)menghemat penggunaan air, (3) melakukan 5R (Rethink, Reduce, Reuce, Recycle, dan Replace), (4) memanfaatkan energi alam semaksimal mungkin, misalnya energy matahari, energy bayu dan terbarukan, (5) menggunakan peralatan ramah lingkungan, (6) melakukan kegiatan penghijauan, dan (7) efektivitas penggunaan kendaraan.
Di samping itu, berpartisipasi dalam komunitas yang memberikan atensi besar terhadap kelestarian lingkungan, seperti Earth Hour 60 minutes untuk mematikan lampu pada Hari Bumi. Sekecil apapun partisipasi kita jika dilakukan secara bersmaa-sama dan terus menerus akan memberikan sumbangsih berarti bagi kelangsungan hidup manusia di planet bumi ini.
Air sebagai anugrah Allah SWT hendaknya dipelihara dan tetap dipertahankan kelestariannya dengan menentukan secara tegas kawasan resapan air. Warga hendaknya dibiasakan untuk berhemat menggunakan air. Seiring dengan peringatan Hari Air Sedunia, penulis mengajak semua pemangku kepentingan untuk kembali merenung dan memikirkan bahwa air adalah berkah dan setiap warga kota mempunyai hak dan kewajiban yang sama untuk ‘menikmati’ berkah tersebut.
Berkah ini hendaknya diartikan dalam skala luas, baik dari segi memelihara, melindungi dan mengolah titipan anak cucu kita, sehingga keberadaannya dijadikan sebagai modal awal untuk kesejahteraan bersama. Allahu alam bisshawab. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/muhammad-arsyad12.jpg)