Subsidi Buku, Kenapa Tidak?

Bayangkan di negeri ini, listrik disubsidi, bahan bakar, gas, bahkan sampai ke MRT Jakarta kena subsidi sebesar Rp 21.000 per tiket.

Subsidi Buku, Kenapa Tidak?
DOK
Muh. Syafri Jaya, Alumni Politeknik Negeri Ujung Pandang & Anggota FLP Cabang Makassar

Oleh: Muh. Syafri Jaya
Alumni Politeknik Negeri Ujung Pandang & Anggota FLP Cabang Makassar

Tidak bisa ditoleransi, kualitas pendidikan harus menjadi harga mati. Ilmu pengetahuan menjadi penentu keberhasilan masa kini, investasi pada pendidikan akan menjadi investasi jangka panjang untuk wajah masa depan suatu bangsa. Tak ayal, yang menguasai pendidikan, akan menjadi penguasa masa depan.

Mari sedikit kita korek wajah pendidikan Indonesia hari ini, dirilis oleh Programme for International Student Assessment (PISA) menempatkan Indonesia di peringkat ke-72 dari 77 negara, dengan tiga kategori penilaian: Reading, Mathematic and Science. China peringkat teratas, disusul singapura, Finlandia peringkat ke-7, Malaysia ke-56 dan Brunai Darussalam ke-59.

Rilis QS World University Ranking, di tingkat pendidikan tinggi, dalam Skala ASEAN, Kampus top Indonesia, Universitas Indonesia (UI) hanya diperingkat 9, atau urutan 292 dunia. Sedangkan Malaysia memiliki lima kampus yang masuk sepuluh besar tebaik ASEAN, University Malaya (UM) mampu di urutan ke-87 dunia.

Kita tertinggal jauh dari Negeri Jiran yang hanya sepelemparan batu dari Indonesia. Ini pekerjaan rumah (PR) besar. Dalam segi minat baca, lebih miris lagi, bisa dicek di website Kominfo, UNESCO menyebutkan Indonesia urutan ke-2 dari bawah soal literasi dunia, urutan ke-60 dari 61 negara.

Menurut data minat baca Indonesia hanya sebesar 0,001 %, artinya dari 1000 orang, hanya 1 orang yang rajin membaca. Sedangkan fakta lain, sebanyak 60 juta penduduk Indonesia memiliki gadget, urutan kelima dunia, dengan pengguna aktif smartphone terbesar ke empat dunia, setelah China, India dan Amerika.

Padahal ebook tersedia melimpah. Tapi bukannya dimanfaatkan membaca, tapi eh digunakan untuk media sosia. Indonesia bahkan menempati urutan ke-5 dunia dalam kecerewetan. Data Wearesocial per Januari 2017, warga Indonesia bisa menatap layar gadget kurang lebih 9 jam sehari, dan Jakarta menjadi kota tercerewet pertama dunia di twitter. Tokyo urutan ke-2.

Suatu dilema besar! Kesadaran masyarakat memanfaatkan gadget untuk memperoleh bacaan bermutu masih sangat kurang. Di lain hal, berbicara mengenai anggaran pendidikan Indonesia, APBN tahun 2020, Bapak Presiden menyampaikan, anggaran untuk pendidikan sebesar Rp5 08 T, salah satu anggaran terbesar, lebih besar dari pada Infrastruktur Rp 423 T, dan kesehatan Rp132 T.

Kenapa paradoks ini terjadi? Kita memiliki penunjang yang sangat baik, infrastruktur yang sedang digaung-gaungkan, anggaran pendidikan yang besar, tapi minat baca dan kualitas pendidikan selalu hanya diurutan terbawa?

Buku Mahal

Halaman
123
Editor: syakin
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved