Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Prof Radi A Gany Wafat

Kenangan Ishaq Rahman, Radi A Gany Pernah Minta Tak Dipanggil Prof

Rektor Unhas dua periode ini yang tutup usianya, Kamis (13/2/2020) dinihari, pukul 02.13 Wita.

Penulis: Darul Amri Lobubun | Editor: Sudirman
Tribun Timur/Darul
Almarhum Prof Radi A Gany, dilantai satu, gedung Rektorat kampus Unhas 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Tiap orang yang sudah mengenal sosok Prof Dr Ir Radi A Gany, tentu tidak akan melupakan jasa-jasanya.

Rektor Unhas dua periode ini yang tutup usianya, Kamis (13/2/2020) dinihari, pukul 02.13 Wita.

Bagi, Ishaq Rahman Kasubdit Humas dan Informasi Publik Direktorat Komunikasi Unhas ini, mengaku punya banyak kesan dan kenangan bersama Prof Radi Gany.

Elegi Ishaq, tahun 1997, Prof Radi A Gany menjabat sebagai Rektor Unhas. Setahun kemudian, pada saat gerakan mahasiswa Mei 1998, Prof Radi ikut serta dalam barisan mahasiswa ketika demo besar-besaran.

"Saya melihat beliau bersama barisan ribuan mahasiswa bergerak dari Kampus Tamalanrea ke Karebosi," ungkap Ishaq.

Itu adalah kenangan pertama Ishak dengan almarhum Prof. Radi, lalu menandatangani ijazah S1 Ishaq pada September 1998.

Kenangan paling berkesan adalah ketika beliau menjadi panelis pada pemilihan Rektor Unhas periode 2018-2022.

Ketika itu cerita Ishak, moderator dan pembawa acara menyebut nama beliau (Prof Radi) dengan sebutan Professor.

Saat itu, almarhum diminta untuk berbicara dan menyampaikan pertanyaan kepada para calon Rektor, almarhum pun mengawali itu dengan kalimat.

"Mohon maaf, saya jangan disapa Professor. Saya sudah pensiun sebagai dosen, sementara Professor adalah pangkat akademik tertinggi untuk seseorang yang berprofesi sebagai dosen aktif," kata Prof Radi saat itu, dicerita Ishaq.

Ribuan hadirin bertepuk tangan riuh. Ketika itu, di masyarakat sedang ramai tentang wacana jabatan Professor.

Ada beberapa pejabat publik yang ingin disebut Professor, misalnya dengan Professor kehormatan.

Prof. Radi ketika itu seolah ingin mengingatkan kita semua, bahwa guru besar atau Professor adalah profesi yang harus dihargai, dan ditempatkan secara terhormat.

Bahkan dirinya sekalipun, ketika sudah bukan lagi dosen maka tidak layak disebut Professor.

"Saya sempat bersama beliau mengunjungi China pada 2018. Ketika kami berada di Guangzhou, Prof. Radi meminta saya untuk menemaninya berkeliling toko pakaian. Katanya, ia ingin membeli sesuatu untuk cucunya," kenang Ishaq Rahman.

Halaman
12
Sumber: Tribun Timur
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved