Strategi Atasi Kelangkaan Tabung Aas Elpiji Bersubsidi

Setelah berhasil ditimbun, kemudian dikeluarkan ketika tabung gas elpiji 3 kg langka, sehingga harga jual semakin menjulang

Strategi Atasi Kelangkaan Tabung Aas Elpiji Bersubsidi
tribun timur
Mahasiswa Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Oleh: Rismawati
Mahasiswa Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

PT Pertamina (Persero) resmi menjual tabung gas elpiji 3 kilogram (Kg) nonsubsidi kepada masyarakat umum. Penjualan sendiri mulai dilakukan mulai tanggal 1 Juli 2018 lalu. Penjualan tabung gas elpiji 3 kg nonsubsidi tujuan utamanya adalah untuk memberikan keadilan.

Sebab, dengan adanya tabung elpiji 3 kg nonsubsidi ini bisa mencegah subsidi yang tidak tepat sasaran, konsumen gas 3 kg adalah masyarakat yang dahulu menggunakan minyak tanah. Mereka adalah rumah tangga berpenghasilan rendah (kurang dari Rp 1.500.000,- per bulan) serta Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), tentu saja murah karena mendapat subsidi.

Banyak sekali masyarakat yang dinilai mampu membeli tabung gas melon tersebut. Sehingga hal itu akan berdampak kepada pasokan gas elpiji yang berlebih dan berakibat kepada kerugian Perseroan. Jumlah rumahtangga di Indonesia bertambah banyak setiap hari di desa maupun kota.

Sedangkan kebutuhan akan gas elpiji bagi setiap rumahtangga sangat tinggi. Harga Elpiji 3 kg yang naik tentunya masyarakat dari kalangan menengah kebawah yang terkena dampak tersebut, walaupun sudah diberikan subsidi langsung. Pasalnya, naiknya harga gas melon diikuti naiknya harga kebutuhan pokok lain di pasaran.

Pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 104 Tahun 2007 tentang penyediaan, pendistribusian, dan penetapan harga Liquefied Petroleum Gas tabung 3 Kg. Meskipun banyak pro dan kontra karena terkesan terburuburu, kebijakan pemerintah tersebut tetap dijalankan. Dari berbagai perpektif, kebijakan pemerintah ini sangat logis, mengingat harga minyak mentah dunia cenderung melonjak sangat tajam. Akan tetapi bukan karena tidak ada masalah, setelah gas elpiji sudah ada manfaatnya dan masyarakat sudah menikmatinya, masalah kembali mendera, yakni kebutuhan meningkat gas elpiji 3 kilogram (Kg) pada waktu-waktu tertentu.

Seperti yang terjadi di Sulawesi Selatan pada umumnya disemua daerah bukan karena kelangkaan tetapi permintaan melonjak tajam pada waktu tertentu. Di Kabupaten Gowa pada waktu-waktu tertentu permintaan gas melon 3 kg ini melonjak tajam, karena rata-rata masyarakat, atau pengusaha-pengusaha rumahan banyak yang menggunakan gas elpiji tersebut mengingat harga gas elpiji 3 kg lebih terjangkau.

Padahal gas elpiji 3 kg diperuntukkan bagi keluarga pra sejahtera. Elpiji 3 kg hanya dikhususkan bagi konsumen rumah tangga dan usaha mikro, ketentuan ini diatur dalam Pasal 3 ayat (1) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 104 Tahun 2007 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Penetapan Harga Liqued Petroleum Gas (LPG) Tabung 3 Kilogram.

Aturan mengenai sasaran subsidi elpiji ini juga terdapat dalam Pasal 20 ayat (2) Peraturan Menteri ESDM No 26 Tahun 2009, ESDM tersebut mengatur bahwa elpiji bersubsidi 3 kg diperuntukkan hanya pada penggunaan rumah tangga dan usaha mikro.

Kementerian keuangan ,mengatakan subsidi energi tercatat Rp 49,4 triliun pada periode Januari-Mei 2018, atau telah mencapai 52% dari anggaran yang dialokasikan di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018. Nilai itu meningkat sekitar Rp 17 triliun atau 53% dibandingkan periode yang sama tahun 2017.

Khusus untuk komoditas elpiji, tercatat bahwa subsidi elpiji mulai menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan pada tahun 2017, yakni mencapai Rp 38,75 triliun. Jumlah itu merupakan nominal kedua tertinggi dalam lima tahun terakhir. Permintaan masyarakat akan terus mengalami peningkatan semenjak dilakukan program konversi bahan bakar minyak tanah ke gas. Elpiji sudah menjadi ujung tombak dalam kegiatan bahan bakar rumah tangga. Tabung gas elpiji sudah masuk daftar kebutuhan pokok sehingga ramai menjadi bahan obrolan, pengeluaran rutin rumahtangga bertambah karena kenaikan Elpiji.

Pembagian tabung gas seringkali salah sasaran. Masyarakat yang sebetulnya mampu, bahkan sudah memiliki kompor gas malahan mendapatkan pembagian gratis sedangkan masyarakat yang membutuhkan atau relatif tidak mampu malahan tidak mendapatkan pembagian.

Padahal sebetulnya tidak susah untuk mendata warga yang relatif kurang mampu dan membutuhkan yakni melalui RT/ kelurahan setempat. Setelah gas elpiji sudah terasa manfaatnya dan masyarakat sudah menikmatinya, maslah kembali mendera, yakni kelangkaan gas elpiji 3 kg, diduga ada beberapa pihak yang menahan, menimbun pendistribusian gas elpiji 3 kg untuk kepentingan pribadi.

Setelah berhasil ditimbun, kemudian dikeluarkan ketika tabung gas elpiji 3 kg langka, sehingga harga jual semakin menjulang. Penyaluran gas elpiji 3 kg yang tidak tepat sasaran dapat berdampak besarnya subsidi. Bila hal ini terus terjadi secara berkelanjutan, tekanan akan berujung kepada pemerintah.

Dengan demikian beberapa tindakan yang dapat diambil untuk menanggulangi kelangkaan gas elpiji 3 kg yaitu menambah pasokan, bila keadaan normal pertamina misalnya menyuplai 100.000 tabung maka ketika terjadi kelangkaan bisa menambah hingga 60% tabung gas elpiji 3 kg, atau pemerintah mengeluarkan tabung gas elpiji 5 kg untuk masyarakat kalangan menengah keatas. Sehingga tabung gas elpiji bersubsidi bisa digunakan untuk kalangan menengah kebawah saja.(*)

Editor: syakin
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved