Tribun Bulukumba

3,59 Persen Balita Bulukumba Alami Stunting, Ini yang Dilakukan Dinkes

Sebanyak 3,59 persen balita di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel), mengalami stunting.

3,59 Persen Balita Bulukumba Alami Stunting, Ini yang Dilakukan Dinkes
Humas Pemkab Bulukumba
Penandatanganan komitmen bersama untuk penanggulangan stunting di Bulukumba, beberapa waktu lalu. 

Menurutnya, ASN yang digaji negara seharusnya memiliki attitude dalam pelayanan yang lebih baik dibanding pelayanan yang diberikan karyawan swasta, yang upahnya jauh lebih di bawah bahkan tak punya gaji pensiun.

“Saya ingin agar setelah kembali dari kegiatan ini, semua Kepala Puskesmas melakukan konsolidasi dan berkomitmen untuk menurunkan angka stunting, gizi buruk, kematian ibu dan anak di 2020. Saya kira rumah sakit juga bisa berkomitmen, rumah sakit kita bintang lima jadi pelayanan seharusnya juga bintang lima,” tegasnya.

Dengan membangun komitmen, Tomy berharap kepala puskesmas dan staf-staf punya tujuan setiap harinya dan memperbaiki dan mempertahankan pelayanan yang baik.

Terpenting adalah meningkatkan softskill, bersikap ramah dalam pelayanan.

Tomy berharap setelah workshop, masing-masing puskesmas melakukan pengecekan data jumlah stunting dan kasus lainnya yang berkaitan di wilayah pelayanannya.

Selain itu, Tomy mendorong Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) untuk memastikan salah satu juknis pengelolaan dana desa terkait stunting menjadi pekerjaan pemerintah desa.

“Namun program yang dimaksud bukan pada studi banding yang pada akhirnya hanya berwujud perjalanan dinas, tapi kegiatan riil yang bersentuhan langsung dalam penanganan stunting,” bebernya.

Akademisi Unhas Prof Veni Hadju, yang menjadi narasumber, menjelaskan kasus stunting hanya dapat diselesaikan dengan penanganan lintas sektor, dengan fokus pada wilayah yang memiliki angka stunting yang tinggi.

Persoalan stunting adalah kasus yang lahir dari kekurangan gizi dalam jangka waktu yang lama.

“Bisa saja bermula saat petumbuhan anak masih dalam kandungan, dimana 1.000 hari pertama merupakan masa emas pertumbuhan anak,” ungkapnya

Halaman
123
Penulis: Firki Arisandi
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved