Tribun Bulukumba
3,59 Persen Balita Bulukumba Alami Stunting, Ini yang Dilakukan Dinkes
Sebanyak 3,59 persen balita di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel), mengalami stunting.
Penulis: Firki Arisandi | Editor: Suryana Anas
Selain itu, Tomy mendorong Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) untuk memastikan salah satu juknis pengelolaan dana desa terkait stunting menjadi pekerjaan pemerintah desa.
“Namun program yang dimaksud bukan pada studi banding yang pada akhirnya hanya berwujud perjalanan dinas, tapi kegiatan riil yang bersentuhan langsung dalam penanganan stunting,” bebernya.
Akademisi Unhas Prof Veni Hadju, yang menjadi narasumber, menjelaskan kasus stunting hanya dapat diselesaikan dengan penanganan lintas sektor, dengan fokus pada wilayah yang memiliki angka stunting yang tinggi.
Persoalan stunting adalah kasus yang lahir dari kekurangan gizi dalam jangka waktu yang lama.
“Bisa saja bermula saat petumbuhan anak masih dalam kandungan, dimana 1.000 hari pertama merupakan masa emas pertumbuhan anak,” ungkapnya
Dikatakannya, dalam penanganan stunting harus dilakukan dengan dua intervensi yaitu spesifik dan sensitif.
Intervensi spesifik dilakukan oleh Dinas Kesehatan, seperti pengobatan, dan pemenuhan gizi.
Sedangkan intervensi sensitif dilakukan oleh sektor lainnya yang terkait dengan pembangunan kesehatan, misalnya Dinas Perumahan, PMD dan Dinas Pemberdayaan Perempuan Anak. (TribunBulukumba.com)
Laporan Wartawan Tribun Timur, Firki Arisandi, IG: @arisandifirki
Langganan berita pilihan tribun-timur.com di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribuntimur
Follow akun instagram Tribun Timur:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/penandatanganan-komitmen-bersama-untuk-penanggulangan-stunting-di-bulukumba.jpg)