Tribun Wiki
Apa Itu Ritual Ma'Tarik Batu Simbuang Masyarakat Toraja? Ini Penjelasannya
Apa Itu Ritual Ma'Tarik Batu Simbuang Masyarakat Toraja? Ini Penjelasannya. Rangkaian prosesi Rambu Solo atau pesta kematian.
Penulis: Tommy Paseru | Editor: Suryana Anas
Apa Itu Ritual Ma'Tarik Batu Simbuang Masyarakat Toraja? Ini Penjelasannya
TRIBUNTORAJA.COM, MAKALE--Toraja memiliki beragam keanekaragaman adat istiadat dan budaya, salah satunya ma'tarik batu atau simbuang batu.
Tradisi matarik batu biasanya dilakukan oleh kalangan-kalangan tertentu dalam pelaksanaan rangkaian prosesi Rambu Solo atau pesta kematian.
Seperti yang terjadi di Rante, Angin-Angin, Kecamatan Kesu', Kabupaten Toraja Utara, Sabtu (9/11/2019).
• Ada Apa? Mendagri Jenderal Polisi Tito Karnavian Minta Maaf ke Mantan Jubir Jokowi Johan Budi
• Ucapan Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 2019, Share di WhatsApp, Facebook, Instagram
• Jadwal Liga Inggris Pekan ke-12: Bigmatch Liverpool vs City, Dua Laga Seru Live di TVRI
Adat Ma' tarik Batu tersebut dilakukan dalam rangka prosesi Rambu Solo' kematian Almarhum Ne' Lai' Lobo' Palullungan.
Ratusan hingga ribuan masyarakat hadir bersama-sama untuk melakukan adat Ma' tarik Batu.
Mereka bahu-membahu, menarik batu Simbuang yang berukuran besar yang akan dipindahkan ke lokasi pelaksanaan Rambu Solo'.
Sebelum di tarik, batu megalitik atau batu alam tersebut terlebi dahulu dipahat hingga berbentuk lonjong menyerupai prasasti.
Dahulu, proses pemahatan biasanya memakan waktu yang cukup lama, 6 hingga 7 bulan lamanya.
Namun sekarang hanya memakan waktu cukup dua hingga tiga bulan tergantung ukuran batu yang berdasarkan status orang yang meninggal.
Untuk menarik batu, terlebi dahulu diikat dengan ijuk dari pohon nira yang dibantu dengan batang pohon bitti. Tujuannya agar memudahkan warga menarik batu.
Kemudian secara beramai-ramai warga menarik batu dengan menggunakan tali tambang yang dikomandoi oleh seorang tokoh adat atau orang yang dituakan.
Namun ada teriakan khas warga Toraja yang sedikit menggelitik telinga saat melakukan proses tarik batu. Yaitu berbicara kotor atau dalam bahasa toraja Ma' Kadoro.
Karena menurut mitologi setempat, dengan meniriakan hal tersebut, batu akan terasa ringan dan dengan mudah bergeser.
Maka, jika dilakukan ritual tarik batu, perempuan tidak diperbolehkan berada dekat dari lokasi ritual Ma' tarik Batu atau Batu Simbuang, lantaran para pria yang ikut tarik batu akan terus berteriak (Ma' Kadoro) hingga batu sampai dilokasi yang diinginkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/ritual-matarik-batu-atau-batu-simbuang1.jpg)