Refleksikan Perjuangan Santri, IKA PPNU Bedah Film Sang Kiyai
Dalam kegiatan tersebut, menghadirkan dua pembedah. Yakni, Abdullah Assegaf selaku Perintis Pondok Pesantren Al-Ma'rif Nabire dan Nur Salam selaku Ket
Penulis: Hery Syahrullah | Editor: Syamsul Bahri
TRIBUNTIMUR.COM, MAKASSAR - Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum (PPNU) menggelar kegiatan Bazar dan Bedah Film Sang Kiyai di Insomnia Cafe and Food, Jl Abdesir, Makassar, Sabtu (26/10/2019) malam.
Dalam kegiatan tersebut, menghadirkan dua pembedah. Yakni, Abdullah Assegaf selaku Perintis Pondok Pesantren Al-Ma'rif Nabire dan Nur Salam selaku Ketua LDNU Kabupaten Gowa.
Terlibat di Festival Budaya Indonesia, Pejabat Kedutaan Besar Temui PKSS Australia Barat
Pimpinan ISIS Abu Bakar al Baghdadi Dikabarkan Tewas Karena Serangan Amerika Serikat di Suriah
Lirik dan Terjemahan Lagu SOSO - WINNER, Berhasil Puncaki Charts iTunes di Seluruh Dunia
VIDEO: Meriahnya Malam Puncak HUT ke-67 Kalla Group, Dihadiri Jusuf Kalla
DIREKAM & VIRAL Gadis Nekat Buka Baju hingga Nyaris Tanpa Busana di Tengah Jalan, Kejar Sopir Taksi
Ketua IKA-PPNU, Fachrur Razy mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk refleksi terhadap momentum Hari Santri Nasional.
Menurutnya, momen tersebut mengingatkan tentang perjuangan santri dahulu dalam memperjuangan NKRI.
" Para santri tidak hanya berjuang mempelajari ilmu agama lewat kitab kuning, akan tetapi mereka juga memperjuangkan negara ini dengan keringat, darah dan air mata," katanya.
Fachrur menyebutkan, santri era dewasa ini mesti menjadikan gambaran perjuangan tersebut untuk terus memajukan agama dan bangsa.
" Perjuangan santri tak boleh putus, meski seiring perkembagan zaman. Santri hari ini berjuang mengisi kemerdekaan dengan mengasah kemampuan. Baik dari segi ilmu agama maupun ilmu di bidang sains," papar Aktivis GP Ansor Gowa ini.
Atas dasar itu, lanjut Fachrur, kesetiaan santri terhadap keutuhan NKRI tak patut diragukan lagi. Sedari dulu hingga saat ini, mereka selalu siap berada di garda terdepan dalam membumikan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 di tengah masyarakat.
"Oleh karenanya, santri tidak akan pernah mendukung gerakan HTI dengan mendirikan khilafah dan mengganti Pancasila sebagai ideologi negara. Kalau ada mengaku santri lantas ingin merongrong pancasila, berarti dia jelas bukan santri," tegas Alumnus Jurusan Hukum dan Ketatanegaraan UIN Alauddin Makassar ini. (*)
Langganan berita pilihan tribun-timur.com di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribuntimur
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/ikatan-keluarga-alumni-ika-pondok-pesantren.jpg)