COFFEE BREAK
Jamil Misbach: Berpolitik Itu Kerja Tuntas dan Habis-Habisan
Kisah seorang pengendali partai di Sulawesi Selatan. Terkenal. Kaya. Pebisnis dengan beragam usaha. Karyawan banyak. Tapi gagal ke parlemen.
Penulis: Jumadi Mappanganro | Editor: Jumadi Mappanganro
Jamil memperbaiki posisi kacamatanya. Dua pengunjung menghampiri meja kami. Saya tak mengenalnya. Tapi tampaknya mereka saling kenal dengan Jamil.
Advokat senior ini melanjutkan cerita. Nampaknya predikat anggota dewan telah menjadi candu.
Buktinya, walau lebih banyak gagal ke parlemen setiap pileg, peminat caleg selalu meningkat. Pun tak sedikiti politikus kembali maju sebagai caleg, kendati pileg lalu gagal.
Apatah lagi mereka yang sudah pernah merasakan enaknya duduk sebagai anggota dewan.
"Selalu saja mau terus mendaftar caleg setiap musim pileg. Meski kadang maju dengan partai berbeda saat pileg sebelumnya," katanya bersemangat.
Saya memilih lebih banyak mendengarnya sembari sesekali menyeruput kopi.
Tetiba hape Samsung Note 10 milik Jamil yang diletakkan di atas meja berdering.
Obrolan kami pun terhenti. Saya kembali melanjutkan membaca pesan-pesan baru yang masuk di hape.
Rupanya ada pesan memanggil ke kantor. Tamu dari manajemen Hotel Citadines segera tiba. Saya pun pamit. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/jamil-misbach1_20160629_172116.jpg)