OPINI

Eksistensi Penyiaran Publik di Era Digital

Ketika fakta tersebut dielaborasi lebih jauh, ternyata pendengar setia radio menilai radio sama seperti teman dekat.

Eksistensi Penyiaran Publik di Era Digital
DOK
Indah P Manggaga, Pengajar di Jurusan Ilmu Komunikasi Fisipol Unismuh Makassar

Oleh: Indah P Manggaga
Pengajar di Jurusan Ilmu Komunikasi Fisipol Unismuh Makassar

SUDAH sepatutnya kita berterima kasih kepada Guglielmo Marconi, ilmuwan Italia yang diakui sebagai penemu pesawat radio. Marconi berhasil meningkatkan jarak pancaran gelombang elektromagnet dan mengisinya dengan informasi.

Hasilnya adalah peralatan transmitter dan receiver ciptaannya mampu mentransfer informasi dari satu tempat ke tempat lain tanpa menggunakan kawat. Ia mengirimkan sinyal morse berupa titik dan garis dari sebuah pemancar menyeberangi Samudera Atlantik pada 1901. Inilah cikal bakal lahirnya radio.

Marconi, sebagai penemu pesawat radio komunikasi kemudian diakui dunia sebagai Bapak Radio. Sejak saat itu, sejarah peran penting radio pun dimulai. Di masa perang dunia, radio menjadi alat yang digunakan oleh militer dan pemerintah untuk kebutuhan penyampaian informasi dan berita.

Juga dimanfaatkan para penguasa untuk tujuan yang berkaitan dengan ideologi dan politik. Di Indonesia sendiri masa radio sudah dimulai sejak masa kolonial. Radio Republik Indonesia (RRI) yang menjadi pelopor dalam dunia peradioan di tanah air. Melalui corong RRI-lah siaran kemerdekaan Indonesia diumumkan ke seluruh pelosok tanah air dan penjuru dunia.

Lalu, bagaimana nasib radio sekarang, di tengah era digital? Di tengah kepungan media sosial yang menawarkan audio visual yang lebih menarik. Digitalisasi merupakan sebuah transformasi masyarakat informatif yang mau tidak mau memaksa kita untuk berpindah dari analog ke digital.

Digitalisasi telah menguasai seluruh sendi kehidupan masyarakat serta media informasi dan telekomunikasi. Sebelum penetrasi internet, televisi merupakan media pertama yang dihadapi oleh radio. Dengan penyajian audio visual sebagai keunggulannya, masyarakat kemudian bergeser ke televisi.

Hasil survei PT Nielsen Indonesia terhadap sebelas wilayah di Indonesia memaparkan bahwa televisi menempati urutan pertama penetrasi media di akhir tahun 2017 lalu. Berdasarkan survei Nielsen Consumer Media View yang dilakukan di 11 kota di Indonesia, penetrasi televisi masih memimpin dengan 96 persen disusul dengan internet (44%), radio (37%), surat kabar (7%), tabloid dan majalah (3%).

Keberadaan internet sebagai media dengan tingkat penetrasi yang sangat tinggi menjadi indikasi bahwa masyarakat Indonesia semakin gemar mengakses berbagai konten melalui media digital.

Pendengar radio tidaklah sebanyak televisi. Apalagi sejak kemunculan televisi swasta di Indonesia.

Halaman
12
Editor: syakin
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved