Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

OPINI

OPINI - Pelajaran dari Ichsan Yasin Limpo

Di mana seorang pemimpin Muslim, terdapat tanggung jawab atas apa yang dia lakukan atas rakyatnya, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti.

Editor: Aldy

Oleh:
Haidir Fitra Siagian
Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar

Setiap individu itu adalah seorang pemimpin. Pemimpin bagi dirinya, keluarganya, maupun orang lain.

Setiap pemimpin, pada saatnya akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.

Bagaimana caranya dia menjadi pemimpin dan apa saja yang diperbuat selama menjadi pemimpin. Ini adalah satu hal yang harus diyakini oleh seorang pemimpin Muslim.

Bahwa kepemimpinan yang diemban di dunia ini bertujuan untuk membawa kesejahteraan bagi khalayak yang dipimpin.

Segala kebijakan dan kewenangannya, mesti diupayakan membawa dampak positif bagi masyarakat luas.

Di sisi lain, mesti berusaha secara optimal menghindari segala sesutua yang berpotensi mendatangkan kemudaratan atau yang merugikan masyarakatnya.

Menjalankan roda pemerintahan sesuai mekanisme yang benar melalui pembangunan dan kebijakan yang dibuat, seperti pembangunan infrastruktur, menstabilkan perekonomian, maupun peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, memelihara lingkungan hidup, mencegah kriminalitas dan penyakit sosial, merupakan upaya nyata meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Baca: Hari Pertama Operasi Patuh, Segini Pengendara Melanggar di Luwu Utara

Ini adalah keinginan rakyat sehingga mereka merasakan arti penting memiliki seorang pemimpin.

Manakala rakyat tidak memeroleh apa yang diharapkan dari seorang pemimpin, maka perlu ada evaluasi menyeluruh tentang kepemimpinannya.

Sebagaimana dikatakan oleh Freira (1971), seorang pemimpin perlu mengetahui, apakah yang diinginkan oleh rakyat di atas kepemimpinannya.

Ini bermakna bahwa dalam menjalankan kepemimpinan, pelaksanaan pembangunan mesti berasal dari bawah ke atas. Bukan sebaliknya, kemauan dari atas ke bawah.

Di samping itu, sebagai pemimpin perlu menyakini bahwa amanah yang dipegang untuk memimpin rakyat, tidak hanya dalam arti untuk urusan di dunia ini semata (Hanifa, 2017).

Indonesia memang bukan negara agama, tetapi sejarah telah menunjukkan bahwa agama telah mendasari setiap gerak langkah bangsa ini.

Oleh itu seharusnya agama dapat melekat dan menjadi ruh dalam diri setiap pemimpin, karena dia adalah individu yang beragama dan memimpin orang yang beragama.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved