Bos Pabrik Jins ini Ajak Karyawan Berhubungan Intim Supaya Bisa Naik Jabatan
Demikian sebuah investigasi terkait pelecehan seksual yang diterima pegawai di pabrik garmen di Lesotho Afrika Selatan seperti dilansir The Guardian.
TRIBUN-TIMUR.COM - Pekerja di sebuah pabrik pembuat jins untuk merek-merek Amerika seperti Levi Strauss, Wrangler dan Lee dipaksa berhubungan seks dengan manajer mereka.
Hal itu untuk mempertahankan pekerjaan mereka atau sekadar mendapatkan promosi.
Demikian sebuah investigasi terkait pelecehan seksual yang diterima pegawai di pabrik garmen di Lesotho Afrika Selatan seperti dilansir The Guardian.
Diketahui lebih dari 10.000 pekerja di lima pabrik yang dimiliki oleh perusahaan Taiwan Nien Hsing, salah satu perusahaan terbesar di negara Afrika selatan itu.
ACC Sulawesi Soroti Kejari Wajo yang Tertutup Tangani Perkara Korupsi ADD
TRIBUNWIKI: Terpilih Aklamasi Jadi Ketua Umum PKB 2019-2024, Ini Profil Muhaimin Iskandar
Nurdin Halid: Calon Ketua DPRD Sulsel Wajib Tes Narkoba
Investigasi dua tahun oleh WRC yang diterbitkan pada hari Kamis pekan lalu itu, menemukan bahwa manajer dan penyelia secara teratur memaksa pekerja wanita berhubungan seksual.
Mereka dengan menjanjikan promosi atau kontrak penuh waktu.
Investigasi juga menemukan bahwa manajemen gagal untuk mengambil tindakan disipliner terhadap pelanggar seksual.
Serikat pekerja setempat juga ditekan agar tak menyampaikan protes.
Diberitakan bahwa pelecehan seksual dari manajer dan penyelia sudah meluas hingga rekan kerja pria juga secara rutin terlibat dalam perilaku kasar.
ACC Sulawesi Soroti Kejari Wajo yang Tertutup Tangani Perkara Korupsi ADD
TRIBUNWIKI: Terpilih Aklamasi Jadi Ketua Umum PKB 2019-2024, Ini Profil Muhaimin Iskandar
Nurdin Halid: Calon Ketua DPRD Sulsel Wajib Tes Narkoba
Demikian menurut wawancara dari sekitar 140 pekerja di tiga pabrik Nien Hsing itu.
Adapun para wanita itu bekerja sebagai penjahit, kontrol kualitas, memotong, mencuci dan mengepak jins.
"Semua wanita di departemen saya tidur dengan penyelia," kata seorang pekerja kepada kelompok hak-hak pekerja.
"Untuk para wanita, ini tentang bertahan hidup dan tidak ada yang lain ... Jika kamu mengatakan tidak, kamu tidak akan mendapatkan pekerjaan, atau kontrak kamu tidak akan diperpanjang."
Laporan tersebut mencakup tuduhan terhadap manajer dari luar negeri.
Seorang pekerja mengklaim bahwa “manajer asing menampar bagian sensitif perempuan dan menyentuh payudara mereka".