Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

TRIBUNWIKI: Begini Sejarah Panjat Pinang di Indonesia

Lomba tersebut bisa dibilang sebagai ikonik yang dilaksanakan pada hari perayaan kemerdekaan Indonesia.

Penulis: Desi Triana Aswan | Editor: Ansar
tribun-timur.com
Beberapa warga dan Personel ikuti lomba Panjat Pinang di HUT ke 73 Bhayangkara, Selasa (10/7/2019) 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR- Salah satu perlobaan yang selalu digelar saat hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia adalah panjat pinang.

Lomba tersebut bisa dibilang sebagai ikonik yang dilaksanakan pada hari perayaan kemerdekaan Indonesia.

Panjat pinang adalah salah satu lomba tradisional yang populer pada perayaan hari kemerdekaan Indonesia.

Sebuah pohon pinang yang tinggi dan batangnya dilumuri oleh pelumas disiapkan oleh panitia perlombaan.

Di bagian atas pohon tersebut, disiapkan berbagai hadiah menarik.

Para peserta berlomba untuk mendapatkan hadiah-hadiah tersebut dengan cara memanjat batang pohon yang biasanya pohon pinang.

Namun tak banyak yang mengetahui bagaimana awal mula sejarah panjat pinang muncul di Indonesia.

Dilansir dari Kompas.com, panjat pinang merupakan salah satu tradisi yang cukup tua dan populer di Indonesia.

Perlombaan ini berasal pada masa penjajahan Belanda yang digelar sebagai acara hiburan bagi para kaum kolonial.

Panjat pinang diadakan pada momentum penting seperti hajatan, hari libur nasional atau hari ulang tahun tokoh-tokoh penting Belanda.

Penjajah Belanda memasang batang pohon pinang yang telah dilumuri pelicin secara vertikal dan memasang bermacam-macam hadiah di pucuk tiang tersebut.

Lalu masyarakat Indonesia pada masa itu akan berlomba-lomba untuk memanjat dan meraih hadiah yang disediakan, sementara penjajah Belanda hanya menonton 'pertunjukan' yang keras itu.

Diketahui pada masa itu hadiah yang dipasang biasanya berupa barang pokok seperti makanan, gula, tepung dan pakaian.

Hadiah seperti itu memang sangat mudah dijumpai pada masa kini.

Namun pada masa penjajahan, masyarakat Indonesia hidup melarat dan tersiksa.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved