Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

OPINI

OPINI - Kegaduhan Perpolitikan Makassar

Kegaduhan politik Makassar tidak terlepas dari pecah kongsi antara IAS dengan DP yang didominasi kepentingan ekonomi politik.

Editor: Aldy

Oleh:
Aspiannor Masrie
Dosen Fisip Unhas

Secara geopolitik dan geostrategis Makassar sangat sexy, realitas politik ini disebabkan Makassar menjadi barometer perpolitikan di Sulawesi Selatan, bahkandiIndonesia Timur.

Sehingga, tidak mengherankan kalau Makassar dipenuhi dengan berbagai intrik politik yang tidak biasa (anomali) dari birokrasi dan berbagi kelompok kepentingan untuk pemenuhan kepentingan ekonomi politik.

Dengan kata lain, Makassar dijadikan arena pertarungan para elit politik lokal dan nasional guna mempertahankan hegomoni politiknya.

Realitas ini, kita bisa lihat bagaimana politik sangkuni telah dipertontonkan secara vulgar melalui ‘politik marcheveli’ dengan tidak mengindahkan etika politik dalam berdemokrasi, sebagaimana terlihat pada kasus Pilwali Makassar 2019.

Demokrasi Makassar telah terjadi Bledding Democrasi, mengakibatkan banyak korban dari para birokrasi, mereka terpaksa terseret kedalam arus demokrasi yang tidak sehat.

Sebagaimana terlihat kasus menonjobkan para camat di era kepemimpinan Muh Ramdhan Pamanto (DP) dan sebaliknya dimasa Pemerintahan Pj Walikota Iqbal Suhaeb, mereka dikembalikan lagi.

Kegaduhan politik Makassar tidak terlepas dari pecah kongsi antara IAS dengan DP yang didominasi kepentingan ekonomi politik.

Pecah kongsi ini membawa elit politik lainya saling memanfaatkan untuk kepentingan mereka masing-masing.

Baca: Perjuangkan Petugas Kebersihan, Legislator PAN Tagih Janji Bupati Bulukumba

Dengan kata lain, ego individual (romantisme) telah melahirkan dendam politik yang menyerat birokrasi dan kelompok kepentingan di masyrakat.

Dengan demikian, filosofi politik yang mengatakan ‘Tidak ada makan siang yang gratis’ menjadi cerminan dalam perpolitikan di Makassar di era dan pasca DP.

Dendam Politik
“Dalam politik tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan”, pepatah ini tercermin dari rivalitas dua sahabat (DP Vs IAS) dalam berpolitik.

Realitas politik ini disebabkan komunikasi politik yang tidak berjalan sebagaimana mestinya karena dominannya ego masing-masing dalam menyikapi perbedaan pandangan politik.

Sehingga, berbagai kelompok kepentingan dari para penikmat kue ekonomi memasuki ranah persahabatan mereka.

Akibatnya, semakinmemperdalam jurang perbedaan antara DP dan IAS dalam menyikapi berbagai dinamika politik.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved