Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Bunga Acuan Turun, Peluang Developer Tingkatkan Penjualan

Penurunan suku bunga mengindikasikan bahwa ekonomi menunjukkan tren positif.

Tayang:
Penulis: Hasriyani Latif | Editor: Hasriyani Latif
abdiwan/tribuntimur.com
Suasana property expo di Atrium Mall Panakkukang Makassar, beberapa waktu lalu. 

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulsel, Bambang Kusmiarso dalam rilis BI terkait Kondisi Perekonomian Terkini di KPw BI Sulsel, belum lama ini menuturkan pertumbuhan kredit didorong olek KMK dan KK yang masing-masing tumbuh 3,0% dan 7,4%.

Sementara Kredit Investasi mengalami perlambatan dari 2,8% (yoy) pada April 2019 menjadi 1,7% di Mei 2019.

Nah, dengan penurunan suku bunga dan program-program pelonggaran sebelumnya seperti LTV dan FLPP, kredit properti baik untuk kepemilikan rumah maupun apartemen diharapkan dapat terdongkrak.

Lantas, sejauh mana efek penurunan bunga acuan terhadap sektor properti?

Pengamat Ekonomi dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr Anas Iswanto Anwar Makkatutu, Sabtu (27/7/2019) mengatakan untuk jangka pendek, penurunan suku bunga tidak akan memberikan pengaruh signifikan terhadap sektor properti.

Namun jika penurunan suku bunga ini dapat dipertahankan dalam jangka panjang maka akan memberikan pengaruh positif terhadap sektor properti

“Jika penurunan ini bertahan selama satu semester, misalnya, kemungkinan akan ada reaksi. Tapi untuk jangka pendek, saya pikir tak akan ada apa-apa (pengaruh) karena bank juga tak akan serta merta menurunkan suku bunga,” tuturnya.

Dikatakan, penurunan suku bunga acuan tidak serta merta diikuti oleh bank-bank dengan menurunkan bunga kreditnya.

Perbankan juga tidak semudah itu menurunkan bunga kredit, apalagi yang sudah on going atau sementara berjalan.

Kalau itu diturunkan, kata dia, bagaimana dengan pembayaran deposito nasabah lama. Kecuali untuk kredit baru.

Tapi lagi-lagi, itu tidak mudah karena perbankan otomatis harus menurunkan bunga deposito juga.

"Inikan persoalan persaingan bank. Jika bank yang satu menurunkan bunga deposito, maka nasabah akan lari ke bank lain yang memiliki bunga yang lebih tinggi," jelasnya.

Bank, lanjutnya, juga akan saling mengintip apakah ada reaksi dari bank kompetitor. Nah, inilah menurutnya yang tidak bisa dikontrol oleh Bank Indonesia (BI).

"Kenyataannya, bunga kredit masih tinggi, presiden dan wakil presiden dalam beberapa kesempatan juga sudah sering menyampaikan agar bunga kredit turun tapi tidak bisa," jelasnya.

Itulah yang membuat daya saing rendah karena terlalu besar gap antara bunga kredit dengan bunga deposito. 

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved