Jelang Idul Adha Ini Tata Cara Berkurban yang Benar Menurut Syeikh Ali Jaber, Jangan Keliru & Pahami

Jelang Idul Adha Ini Tata Cara Berkurban yang Benar Menurut Syeikh Ali Jaber, Jangan Keliru & Pahami

Jelang Idul Adha Ini Tata Cara Berkurban yang Benar Menurut Syeikh Ali Jaber, Jangan Keliru & Pahami
Bangkapos.com/ Deddy Marjaya
Jelang Idul Adha Ini Tata Cara Berkurban yang Benar Menurut Syeikh Ali Jaber, Jangan Keliru & Pahami 

"Bismillah atas namaku dan keluarga. Tidak perlu membawa nama-nama. Atas namaku dan keluarga sudah termasuk orang tua yang meninggal. Ada sebagian ulama membolehkan, kalau kita mampu dan mau khusus, kambing atas nama orang tua, tidak masalah. Kalau tidak mampu, maka 1 ekor sudah termasuk keluarga dan orang tua kita. Ini adalah salah satu sedekah yang berguna bagi orang tua yang meninggal di keluarga kita," katanya.

Baca: Sapi Kurban Mulai Naik Jelang Iduladha di Gowa

Baca: Mudahkan Pengguna Go-TIX untuk Berkurban, Gojek Gandeng Lima Organisasi

Baca: Ibadah Sunnah Jelang Idul Adha, Berikut Niat dan Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah

2. Makan Daging Kurban

Persoalan kedua yang beliau sorot adalah sunnah yang mulai hilang yaitu banyak yang tidak mau makan dari hasil kurban.

Sebagian besar masyakarat tidak mau memakan daging kurban dengan alasan ingin disedekahkan semua untuk fakir miskin.

"Padahal ini adalah sunnah Rasul seperti dalam aqiqah. Rasululullah membagi kurban menjadi tiga, pertama dihadiahkan kepada orang kaya untuk silaturrahim, kedua disedekahkan untuk orang miskin, dan yang ketiga untuk diri sendiri. Bahkan Rasulullah SAW sebelum shalat 'Ied berpuasa, lalu membatalkannya sesudah shalat dari hasil sembelihan hewan qurban," kata Syeikh Ali.

Beliau menekankan bahwa daging kurban yang ingin disedekahkan semua tidak masalah, namun mengajak jamaah agar sesekali menghidupkan sunnah Rasul dengan memakan daging qurban.

3. Pembayaran dengan Kulit dan Kepala

Persoalan ketiga yang beliau sorot adalah maraknya pembayaran ongkos penyembelihan hewan kurban dengan kulit dan kepala, padahal tidak dibenarkan.

"Tidak boleh pembayaran hasil sembelihan dari kulitnya. Banyak tukang sembelih datang, ketika kita tawarkan untuk sembelih dan tanya berapa, 'ndak papa kasi aja kulitnya sama kepalanya'. Jangan anda setuju dan terima," kata beliau menegaskan.

"Qurban itu lillahi ta'ala bukan jual beli. Kalau sudah dijual berarti bukan kurban karena tidak lillahi ta'ala," tambahnya.

Halaman
1234
Editor: Waode Nurmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved