OPINI

Aswar Hasan yang Saya Kenal

Terpilih jadi komisoner KPI Pusat. Aswar diserang dengan tuduhan sosok radikal. Benarkah? Inilah kesaksian Fajlurrahman Jurdi, dosen Unhas.

Aswar Hasan yang Saya Kenal
TRIBUN TIMUR/ DARUL AMRI
Akademisi Universitas Hasanudin (Unhas) Aswar Hasan ikut dalam peringatan hari Anti Korupsi sedunia bersama Garda Tipikor Unhas di bawah Flyover Jl Urip Sumoharjo, Makasar, Jumat (9/12/2016) siang. 

Oleh: Fajlurrahman Jurdi
Mantan Ketua DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
Dosen Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin

SAYA agak tergelitik melihat berita yang beredar kian massif yang menuding salah satu komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat terpilih, Dr Aswar Hasan MSi, sebagai orang yang terafiliasi dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Sebagai salah satu di antara sekian banyak orang yang dekat dan mengenalnya, tudingan ini tak berdasar dan berlebihan.

Aswar Hasan adalah seorang intelektual organik, yang bergerak berdasarkan naluri akademik. Ia berbaur dengan semua orang. Menyapa semua generasi dari berbagai kalangan.

Ia berada di dua gunung kembar organisasi Islam Indonesia: NU dan Muhammadiyah.

Ia moderat. Ia bisa diterima di semua kalangan. Itu karena pikirannya yang terbuka dan caranya yang netral. Aswar jelas jauh dari yang dituduhkan. Saat-saat tertentu ia membela modernisasi. Pada saat yang lain, menjaga tradisionalisme.

Di antara aktivis Islam, ia menjadi penengah yang baik dan bisa diterima semua kalangan. Di Makassar atau Sulawesi Selatan secara umum, Aswar merupakan pemikir jalan tengah.

Maka cap sebagai muslim moderat atau ‘cendekiawan muslim jalan tengah’ disandangnya.

Terpilih Jadi Komisioner KPI, Ini Target Aswar Hasan

Seorang Penumpang KMP Kota Muna Jatuh di Teluk Bone, Ini Identitasnya

Kapasitas dan kualifikasi intelektual Aswar, gaya komunikasi, dan sentuhannya dengan pemikiran akademik yang begitu dekat dengan kategorisasi intelektual organik-nya Gramscian, menyebabkan ia selalu berpihak pada kelompok ‘terasing’.

Ia selalu tampil membela umat Islam yang ‘terpinggirkan’ dan menjadi framing media massa. Aswar nyaman bila bersama orang Muhammadiyah. Tapi juga tenang berada di tengah-tengah NU. Dua gerbong besar umat Islam Indonesia, yang sama-sama menjaga nasionalisme.

Halaman
123
Editor: Jumadi Mappanganro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved