OPINI

AGH Syekh Saleh Puang Turu

Tarekat Khalwatiyah Samman merupakan salah satu tarekat yang cukup berkembang di Sulawesi Selatan (Sulsel)

AGH Syekh Saleh Puang Turu
TRIBUN TIMUR/ABD AZIS
Pembina Pesantren An-Nahdlah dan Dosen UIN Alauddin Makassar 

Oleh: Firdaus Muhammad
Pembina Pesantren An-Nahdlah dan Dosen UIN Alauddin Makassar

Tarekat Khalwatiyah Samman merupakan salah satu tarekat yang cukup berkembang di Sulawesi Selatan (Sulsel). Tarekat ini berpusat di Pattene, Kabupaten Maros. Tarekat ini dikembangkan Anregurutta Haji (AGH) Asy-Syekh Muhammad Shaleh Puang Turu. Akrab disapa Puang Lompo. Beliau mengembang amanah dari orang tuanya, As-Syekh Haji Abdullah Puang Ngatta yang juga akrab dipanggil Puang Lompo.

Kisahnya saya peroleh dari dokumentasi yang ditulis AGH Hamzah Puang Nippi bersama HA Sjadjaruddin Malik atas nama pimpinan Tarekat Khalwatiyah Samman tertanggal 20 Februari 1998 di Pattene. Dokumen tersebut menguraikan dinamika tarekat yang dikembangkan oleh Puang Turu sejak masa penjajahan hingga masa kemerdekaan. Tarekat ini mengenal sistem khalifah.

Syekh Saleh diangkat oleh ayahnya Syekh Abdullah Puang Ngatta. Setelah wafat, beliau dimakamkan di Leppakkomai. Kepemimpinan tarekat kemudian diemban Syekh Saleh Puang Turu, Puang Lompo, sejak tahun 1931.

Dalam perkembangannya, Syekh Saleh berhasil meyakinkan kebenaran ajaran tarekat tersebut. Pada 1934, pernah digelar rapat dengan AGH Muh As’ad Pendiri Pesantren As’adiyah di Sengkang, Kabupate Wajo. Turut dihadiri perwakilan Tarekat Khalwatiyah yang pimpin oleh Muh. Yasin dan Petta Okeng.

Dari pertemuan itu disepakati bahwaihwal kebenaran tarekat tersebut adalah untuk menjalan wirid dan zikir, baik di masjid maupun di rumah. Kemudian pimpinan tarekat ini juga telah melakukan tabayyun kepada AGHAbdurrahman Ambo Dalle, pendiri Pesantren DDI. Pada tahun 1937 Syekh Saleh Puang Turu selaku pimpinan tertinggi tarekat ini menerima surat dari AGH. Abdurrahman Ambo Dalle ihwal ajaran tarekat Khalwatiyah Samman. Sehari kemudian, Syekh Saleh membalas surat tersebut. Setelah mendapatkan jawaban melalui surat yang diantar Puang Ambo Banri di Keru-Keru, Mangkoso, Kabupaten Barru, maka AGH Abdurrahman Ambo Dalle mengakui kebenaran tarekat tersebut untuk diamalkan.

Meski demikian, dalam perjalanannya Syekh Saleh menghadapi berbagai rintangan dalam mengembangkan tarekat tersebut. Bahkan pernah dipenjara akibat fitnah pihak tertentu hingga kemudian dilepas setelah ada penjelasan. Beliau cukup bijak, ketika pihak tertentu untuk memintanya balas dendam, beliau jawab, “Saya tidak ada masalah karena mungkin melalui ujian ini Allah Swt mengangkat derajat orang yang dicintai-Nya dalam memperjuangkan agama Allah”.

Pada masa pemerintahan Jepang (tahun 1943), Puang Turu didatangi oleh KH. Muh. Faisal dan Haji Zakaria untuk mengadakan dialog keagamaan. Namun diakhir pembicaraan mereka, sepakat mengakui kebenaran tarekat Khalwatiyah Samman yang dikembangkan di Pattene.

Bahkan Syekh Qadi Sofyan qadi asal Mangkoso mendatangi Syekh Saleh untuk uji kedalaman ilmu agama dan tarekat. Ternyata sebelum ditanya, semua beliau jawab. Qadi itu kemudian menjadi pengikut Syekh Shaleh Puang Turu. (*)

Editor: syakin
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved