Lima Mahasiswa Unhas Gunakan Pendekatan Seni Atasi Bencana Banjir

Kelima mahasiswa ini tergabung dalam kelompok Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) Bidang Pengabdian Pada Masyarakat.

Lima Mahasiswa Unhas Gunakan Pendekatan Seni Atasi Bencana Banjir
handover
Seorang mahasiswa Unhas mengajarkan puisi kepada anak jalanan di Makassar. Mahasiswa ini menggunakan pendekatan seni dan budaya kepada anak jalanan agar mereka paham tentang penanggulangan bencana di Makassar, khususnya bencana banjir. 

MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - Mahasiswa Unhas dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Fakultas MIPA, dan Fakultas Ilmu Budaya, membuat sebuah program penanggulangan bencana banjir khusus untuk anak jalanan di Makassar.

Mereka menyasar anak jalanan karena selama ini, edukasi mengenai penanganan banjir di Makassar, hanya dirasakan oleh anak-anak yang duduk di bangku sekolah formal. Sementara anak-anak jalanan ini sebagian besar tidak duduk di bangku sekolah.

Mahasiswa yang menggagas ide ini terdiri dari Dea Pramita (Ilmu Kelautan dan Perikanan 2015), Aisyah Humairah Jibril (Ilmu Kelautan dan Perikanan 2015), Muhammad Hasbi Hasnan Habib (MIPA 2015), Farah Yodhia Kinriabe (Ilmu Budaya 2018), dan Andi Febiola (Ilmu Budaya 2018).

Kelima mahasiswa ini tergabung dalam kelompok Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) Bidang Pengabdian Pada Masyarakat.

“Tujuan kami melakukan program ini untuk menumbuhkan kesadaran dan mengedukasi anak-anak jalanan akan pentingnya mengetahui cara penanggulangan banjir yang terjadi hampir setiap tahun di Makassar,” kata Dea Pramita, kemarin.

Dea menambahkan, bukan hal mudah untuk menggiring pemahaman anak jalan yang telah merasakan kerasnya kehidupan jalanan. Oleh karena itu, mereka menggunakan metode yang menarik agar program ini mudah dipahami.

“Kami gunakan pendekatan seni dan kebudayaan Bugis-Makassar. Kami menilai kesenian adalah salahsatu alat yang bersifat universal dan digemari banyak kalangan,” kata Dea.

Melalui gerakan tari, drama dan puisi, anak jalanan diajarkan bagaiaman menjaga lingkungan agar terhindar dari bencana banjir. Sementara kebudayaan yang diterapkan adalah siri napacce. Di mana anak jalanan diajarkan untuk menumbuhkan rasa malu saat bertindak di luar norma termasuk membuang sampah sembarangan.

Anak-anak jalanan ini juga diajarkan kebudayaan sipakainga, sipakatau dan sipakalebbi. Untuk menumbuhkan rasa saling mengingatkan antar sesama untuk dapat menjaga lingkungan.(*/tribun-timur.com) 

Penulis: Wahyu Susanto
Editor: Muh. Irham
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved