Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

OPINI

OPINI - Anarkho Sindikalisme

Mengapa anarkhisme memiliki musuh dan siapakah musuh-musuh anarkhisme? Apa itu anarkhisme?

Editor: Aldy
zoom-inlihat foto OPINI - Anarkho Sindikalisme
tribun timur
forum studi humaniora makassar

Oleh:
Muh Taufik Kasaming
Forum Studi Humaniora Makassar

“Membakar ban - membakar simbol-simbol kapitalisme -membakar bendera ideologi idealisme ultra kanan – melemparkan bom botol – hingga menebang pohon, bisakah disebut “Anarkhisme’? Bingungkan ? (Alexander berkman, 1929)

Big bos politik Anda ataupun majikan Anda, para kapitalis ataupun para polisi dan tentara, pemimpin redaksi media cetak dan media siar, dan para politisi yang nongkrong di eksekutif dan legislatif, tidak akan pernah jujur menjelaskan anarkhisme.

Dan mereka tidak mengetahui, tapi anehnya sangat membencinya dan sangat menentang anarkhisme. (Peter E. Newel, 1970)

Anarkhisme selalu memiliki banyak musuh. Tidak ada yang jujur menjelaskannya.

Mengapa anarkhisme memiliki musuh dan siapakah musuh-musuh anarkhisme? Apa itu anarkhisme?

Mengapa simbol “A” dalam lingkaran merah bendera hitam?

Perayaan hari kelahiran pergerakan buruh 22 Mei 2019, sedikit diwarnai oleh varian gerakan yang dilakukan oleh sekelompok anak muda yang melakukan tindakan agresional.

Baca: Safari Ramadan, Kemenag Majene Sebar Puluhan Dai ke Pelosok

Ciri style/gaya serba hitam-masker-kupluk-jemper tudung dan senjata megaphone-cat semprot-batu-hingga bom botol.

Taktik hit and run (orasi-vandal-lompat-lempar-lari) adalah gaya klasik skill yang menjadi ciri agresifitas mereka.

Spontan tidak lama berselang keluar siaran pers dari Kapolri Tito Karnavian, menyatakan “ancaman yang lebih serius dari ideologi khilafah (ideologi keagamaan/ultra kanan) adalah gerakan anarkho sindikalisme.”

Benarkah gerakan alternatif anak-anak muda ini sudah sangat serius sehingga pucuk Kepolisian RI menganggapnya sebagai ancaman laten?

Membahas dan mengupas ideologi anarkhisme tidaklah mungkin hanya dalam tulisan yang terbatas ini.

Menuntaskan ideologi anarkhisme dalam ruang tulis terbatas ini ibarat seorang penyelam pemula yang mencoba mengeksplorasi lautan meski hanya pinggir pulau/pantai.

Penulis hanya mengantar sedikit dan mengajak menyelam bersama seputar tren aktifis gerakan sosial ‘anak muda dan ideologi anarkhisme.

Penulis sadar bahwa anarkhisme secara historial bagai kurikulum yang panjang nan berliku.

Baca: 211 Peserta Bakal Hadiri Pengajian Muhammadiyah Sulsel

Kajian dan urai filsafat, tarik sosiologis, dan benang kusut seputar perdebatan sosialisme dan komunisme, menjadi peringatan studi untuk bersiap mengerutkan kening dan membuat kepala puyeng.

Kata anarkhisme; an = tanpa, archie = negara, isme = faham/keyakinan. Adalah sebuah faham/aliran politik ultra liberal bahwa komuni/masyarakat tanpa negara.

Sedangkan sindikalisme adalah sebuah sistem ekonomi di mana sentris ekonomi dikelola oleh sistem kolektif, dibawah korporatik federasi serikat dagang dibawah otoritas serikat pekerja atau buruh.

Akumulasi dan stimulasi dalam tata kelola industrialnya juga dikelola dibawah otoritasi kolektif.

Federasi dan konfederasi hingga partai, para pekerja bertumpu pada koperasi-koperasi yang menjadi bank-bank kapital-kolektif dan komoditi sebagai basis ekonomi materialnya.

Cukup unik untuk menjadi diskursus dalam kajian humaniora tentang sekumpulan anak muda yang bergerak dengan taring juang yang sarat dengan ideologi padat filsafat.

Mereka tidak menjual SARA sebagai kamuflase politiknya. Mereka tidak meng-kerdil-kan Tuhan sebagai barang obral murahan yang mudah menghakimi sesama manusia lainnya.

Mereka berkeyakinan material. Segala sesuatu yang bernuansa idealisme, mereka buang di tong sampah.

Bagi mereka, idealisme, menipu daya pikir dan memulung perdebatan yang tak berkesudahan. Eksis!

Mereka kukuh dalam pijakan filosofisnya bahwa manusia harus bebas dan tidak boleh ditindas. Disitulah manifesto dan pedang juang material mereka.

Baca: Baznas Bone Bantu Flatching Jig Komunitas Olahraga Panahan

Varian Anarkhisme
“Tidak ada yang kekal, yang kekal hanya perubahan”. Idiom ini menunjukkan bahwa ideologi anarkhisme juga mengalami varianitasi.

Selain sentrisme buruh, neo-tren bagi anak muda yang getol terhadap diskursus dan kajian diskusif adalah tren “environmentalisme”.

Memunculkan wajah baru dalam gerakan hijau yakni “green anarkho atau greenarkho”.

Kerusakan rumah besar yang bernama ‘bumi’ atas perubahan iklim ekstrem global, menjadikan para greenarkhis melihat isu ini menjadi target militansi perlawanan terhadap kapitalisme sebagai faham/kaum/kelas yang paling bertanggung jawab.

Perjuangan kelas tidak lagi berbasis pertentangan miskin-kaya, raja-sahaya, tuan tanah-budak, tapi lebih universal.

Keprihatinan terhadap kerusakan bumi mewabah bak virus dikomunitas-komunitas diskusi.

Para anak muda diskusif ini menembus relung imajinasi melihat kerusakan dimasa depan tak terelakkan.

Berawal dari bincang literasi kemudian beranjak berorganisasi dan selebihnya taktik berlawan.

Tak ayal, gerakan ‘anarkho hijau’ menyasar industri-industri pabrik, pertambangan, penyebab polusi, perkebunan besar, hingga eksploitasi hutan dan laut, sebagai titik serang yang harus mereka lawan.

Gerakan hijau mewabah tanpa konsentrasi negara, bangsa, dan agama. Para greenarkhis terorganisasi global melalui tuts-tuts gadget media sosial.

Baca: Bahtiar dan Dewi Gagas Pilot Project Budidaya Jagung Hibrida di Luwu Utara

Tidak mudah memahami anarkhisme hanya karena latah oleh vonis sosial bahwa anarkhisme identik dengan “kekacauan dan ketidakteraturan”.

Kaum anarkhis sering menjadi cecar dan sasaran ketika terjadi situasi chaos dalam banyak peristiwa tragik secara historial.

Sangat jelas, kaum anarkhis bukan teroris. Perbedaan anarkhis dengan teroris sangat kontras basis filosofisnya.

Bagi kaum anarkhis, chaos hanya metodologi, bukan tujuan!

“Fenomenal”? Tentu! Jelasnya, mereka bukan anak muda para-begal.

Mereka bukan anak muda picisan dalam kehidupan hedon romantik. Mereka anak muda pecinta bumi.

Mereka pecinta kemanusiaan dan berjuang untuk hak asasi banyak orang. Mereka anak muda pemikir dan militan untuk melawan ketidakadilan.

“So next is”? Puyeng? Yang pasti, mungkin mereka memiliki banyak musuh.

Namun, mereka anak muda yang adab dan dialogis penuh cita dan visi. Kenali mereka.

Pahami ajarannya dan se-sekali dengarkan mereka.

Ingat, mereka terlahir dari ari-ari keilahian dan berjuang untuk perdamaian dan atas nama cinta!

“Jatuh saja, keuntunganmu karena masih muda” (Lao Tzu). (*)

Catatan: tulisan ini telah terbit di Tribun Timur edisi cetak, Rabu (15/05/2019)

Sumber: Tribun Timur
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved